Rencana perang Irak, yang dilancarkan meski mendapat tentangan dari seluruh dunia, telah dipersiapkan setidaknya puluhan tahun lalu oleh para ahli strategi Israel. Dalam upayanya mewujudkan strategi pelemahan atau pemecahbelahan negara-negara Arab Timur Tengah, Israel memasukkan Mesir, Syiria, Iran dan Saudi Arabia dalam daftar sasaran berikutnya.
Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah memulai penggempuran terhadap Irak. Meskipun kenyataannya kebanyakan negara di seluruh dunia, bahkan sebagian besar sekutu AS sendiri, menentangnya, pemerintahan AS bersikukuh untuk meneruskan rencana serangannya. Ketika kita melihat apa yang ada di balik sikap keras kepala AS ini, maka Israel-lah satu-satunya yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan penderitaan di Timur Tengah sejak awal abad kedua puluh. Kebijakan pemerintah Israel yang ditujukan untuk memecah-belah Irak memiliki akar sejarah yang panjang"
Rencana Israel Membagi Irak
Laporan berjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties" (Strategi Israel di Tahun 1980-an), oleh majalah berbahasa Ibrani terbitan Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan menjadikan seluruh kawasan Timur Tengah sebagai wilayah pemukiman Israel. Laporan tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon - seorang wartawan Israel yang pernah dekat dengan kementrian luar negeri Israel - memaparkan skenario "pembagian Irak" sebagaimana berikut:
Irak, negeri kaya minyak yang menghadapi masalah perpecahan dalam negeri, dijamin bakal menjadi sasaran Israel. Mengakhiri riwayat Irak jauh lebih penting bagi kita ketimbang Syria" Sekali lagi, Irak pada intinya tidaklah berbeda dengan para tetangganya, meskipun sebagian besar penduduknya adalah penganut Syi'ah dan sebagian kecil Sunni yang menguasai pemerintahan. Enam puluh lima persen penduduknya tidak memiliki andil dalam politik di negara di mana sekelompok elit berjumlah 20 persen memegang kekuasaan. Selain itu terdapat minoritas Kurdi berjumlah besar di wilayah utara, dan jika bukan karena kekuatan rezim yang memerintah, angkatan bersenjatanya, dan pemasukannya dari minyak, masa depan Irak akan takkan berbeda dengan nasib Libanon di masa lalu" Dalam kasus Irak, pembagiannya menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis suku atau agama sebagaimana yang terjadi pada Syiria di masa kekhalifahan Utsmaniyyah adalah sesuatu yang mungkin. Jadi, tiga (atau lebih) negara kecil akan terbentuk di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; dan wilayah kaum Syi'ah di selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.
Kita hanya perlu sedikit mengingat kembali bagaimana skenario ini sebagiannya telah dilakukan pasca Perang Teluk 1991, di mana Irak secara efektif, kalau tidak secara resmi, dibagi menjadi tiga wilayah. Fakta bahwa rencana AS menduduki Irak, yang sedang dilakukan saat tulisan ini dibuat, dapat kembali mendorong terbaginya wilayah tersebut, merupakan sebuah ancaman nyata.
Peran Israel dalam Perang Teluk
Penerapan strategi Israel telah dilakukan sejak tahun 1990. Saddam Hussein menyerbu Kuwait dalam serangan mendadak pada tanggal 1 Agustus 1990, sehingga memunculkan krisis internasional. Israel menjadi pemimpin bagi kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap yang dianut AS menyusul serangan terhadap Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap AS bersikap moderat, dan menginginkan adanya kebijakan yang lebih keras. Sedemikian jauhnya sehingga Presiden Israel, Chaim Herzog, menganjurkan agar AS menggunakan bom nuklir. Di sisi lain, lobi Israel di AS tengah berupaya untuk mendorong terjadinya serangan berskala luas atas Irak.
Seluruh keadaan ini mendorong terbentuknya pandangan di AS bahwa serangan terhadap Irak yang sedang dipertimbangkan, sesungguhnya dirancang demi kepentingan Israel. Komentator terkenal, Pat Buchanan, merangkum pandangan ini dalam kalimat " Hanya ada dua kelompok yang menabuh genderang perang di Timur Tengah - Kementrian Pertahanan Israel dan kelompok pendukungnya di Amerika Serikat." (http://www.infoplease.com/spot/patbuchanan1.html)
Israel juga telah memulai kampanye propaganda serius dalam masalah ini. Karena kampanye ini sebagian besar dilancarkan secara rahasia, maka Mossad pun terlibat pula. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, memberikan informasi penting mengenai hal ini. Menurutnya, Israel telah berkeinginan melancarkan peperangan bersama AS melawan Saddam jauh sebelum krisis Teluk. Bahkan Israel telah memulai melaksanakan rencana tersebut segera setelah berakhirnya perang Iran-Irak. Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP - LohAma Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 252-254).
Agen Mossad Berbicara tentang Perang Teluk
Ostrovsky menjelaskan bagaimana Mossad menggunakan para agen atau simpatisan di berbagai belahan dunia dalam kampanye ini dan bagaimana, misalnya, Amnesty International atau "para penolong Yahudi sukarelawan (sayanim)" di konggres AS dikerahkan. Di antara cara yang digunakan dalam kampanye tersebut adalah rudal yang diluncurkan ke sasaran-sasaran penduduk sipil di Iran selama perang Iran-Irak. Sebagaimana dijelaskan Ostrovsky, penggunaan rudal-rudal ini oleh Mossad di kemudian hari sebagai sarana propaganda sungguh janggal, sebab rudal-rudal tersebut ternyata telah diarahkan ke sasarannya oleh Mossad, dengan bantuan informasi dari satelit AS. Setelah mendukung Saddam selama perangnya melawan Iran, Israel kini tengah berupaya menampilkannya sebagai seorang monster. Ostrovsky menulis:
Para petinggi Mossad mengetahui bahwa jika mereka dapat menjadikan Saddam terlihat sebagai sosok sangat jahat dan sebagai ancaman bagi pasokan minyak Teluk, yang hingga saat itu ia telah menjadi pelindung pasokan tersebut, maka Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya takkan membiarkan Saddam begitu saja, tapi akan membuat perhitungan yang akan menghancurkan angkatan bersenjata dan kekuatan persenjataanya, khususnya jika mereka sampai yakin bahwa ini hanyalah kesempatan terakhir mereka sebelum Saddam menggunakan senjata nuklir. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 254)
Israel sangat bersikukuh dalam masalah ini, dan dalam kaitannya dengan Amerika Serikat, pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa diplomatis kepada William Brown, duta besar AS untuk Israel, dengan mengatakan bahwa Israel "menginginkan AS akan memenuhi semua tujuan-tujuan yang ditetapkan Israel untuk mereka sendiri di awal krisis teluk," dengan kata lain AS hendaknya menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri. (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous Liaison, hlm. 356.)
Akan sangat menguntungkan bagi Israel jika AS terlibat perang tanpa keterlibatan apa pun di pihak Israel: dan inilah yang benar-benar terjadi.
Israel Memaksa AS Berperang
Akan tetapi, kalangan Israel terlibat secara aktif dalam perencanaan perang oleh AS. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancang Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis jitu dari kalangan Israel bahwa "cara terbaik melukai Saddam adalah dengan melancarkan serangan terhadap keluarganya."
Kampanye propaganda yang diilhami Mossad sebagaimana dilaporkan Ostrovsky membentuk dukungan publik yang diperlukan dalam Perang Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah yang berperan menyulut api peperangan. Lembaga pelobi Hill and Knowlton, yang dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel, mempersiapkan rancangan yang dramatis guna meyakinkan para anggota Konggres perihal perang melawan Saddam. Turan Yavuz, wartawan Turki terkenal, memaparkan kejadian tersebut:
9 Oktober 1990. Lembaga pelobi Hill and Knowlton mengadakan pertemuan di Konggress yang bertemakan "Kebiadaban Irak." Sejumlah "saksi mata" yang dihadirkan dalam acara itu oleh lembaga pelobi tersebut menyatakan bahwa tentara Irak membunuh bayi-bayi baru lahir di bangsal-bangsal rumah sakit. Seorang "saksi mata" memaparkan kekejaman itu dengan sangat rinci, dan mengatakan bahwa para prajurit Irak telah membunuh 300 bayi baru lahir di satu rumah sakit saja. Berita ini sungguh mengguncang para anggota Konggress tersebut. Ini menguntungkan bagi pihak Presiden Bush. Namun, belakangan diketahui bahwa saksi mata yang dihadirkan oleh lembaga pelobi Hill and Knowlton di hadapan Konggres ternyata adalah anak perempuan duta besar Kuwait untuk Washington. Kendatipun demikian, kisah yang dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup bagi para anggota Konggress untuk menjuluki Saddam sebagai "Hitler". (Turan Yavuz, ABD'nin Kürt Karti (The US' Kurdish Card), hlm. 307)
Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan saja: Israel berperan penting dalam kebijakan Amerika Serikat untuk melancarkan perang pertamanya terhadap Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak berbeda.
Alih-Alih "Perang terhadap Terorisme"
Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana untuk menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak lama sebelum dilancarkannya "perang mewalan terror," yang mengemuka pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama adanya rencana ini mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan memanfaatkan lembaga think-tank "konservatif baru", yang dinamakan PNAC, Project for The New American Century (Proyek bagi Abad Amerika Baru).
Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set" (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta berikut:
Namun kenyataannya, Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 – hampir empat tahun sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush memegang pemerintahan.
Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad Amerika Baru, atau PNAC – yang berhubungan erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki Bush, Jeb – bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998. (William Bunch, Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)
Minyakkah yang Menjadi Tujuan Sebenarnya?
Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh untuk menggulingkan Saddam? Artikel yang sama melanjutkan:
Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan kebijakan PNAC terhadap Irak, namun tampaknya ini bukanlah pendorong utama. [Ian] Lustick, [seorang profesor ilmu politik Universitas Pennsylvania dan ahli Timur Tengah,] yang juga pengecam kebijakan Bush, mengatakan bahwa minyak dipandang oleh para pendukung perang terutama sebagai cara untuk membayar operasi militer yang sangat mahal.
"Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan yang saya kenal menentang tindakan militer terhadap Irak," kata Schmitt dari PNAC. "Pasar minyak tidak perlu diganggu."
Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang sangat berpengaruh kuat kemungkinan adalah Israel. Ia mengatakan para pendukung perang dalam pemerintahan Bush yakin bahwa parade pasukan di Irak akan memaksa Palestina menerima rancangan perdamaian yang menguntungkan Israel"(William Bunch, "Invading Iraq not a new idea for Bush clique" Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)
Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk menyerang Irak: membantu strategi Israel di Timur Tengah.
Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur Tengah lainnya. Misalnya Cengiz Çandar, ahli Timur Tengah asal Turki, memaparkan kekuatan sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas Irak sebagaimana berikut:
"Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak? Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan Rumsfeld, Penasehat Keamanan Dalam Negeri Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung "tingkat tinggi" terhadap penyerbuan tersebut. Akan tetapi, selebihnya dari gunung es tersebut sungguh lebih besar dan lebih menarik. Terdapat sejumlah "lobi."
Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish Institute for Security Affairs (Lembaga Yahudi untuk Masalah Keamanan) JINSA, yang merupakan kelompok kanan Israel pro-Likud yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan industri-industri senjata AS" Mereka memiliki hubungan erat dengan "lobi persenjataan," Lockheed, Northrop, General Dynamics dan industri militer Israel" Prinsip mendasar JINSA adalah bahwa keamanan AS dan Israel adalah tak terpisahkan. Dengan kata lalin, keduanya adalah sama.
Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan rezim Saddam di Irak, tetapi juga mendukung penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti dengan "penegakan" demokrasi. …Dengan kata lalin, sejumlah Yahudi Amerika yang seirama dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang mendukung perang di Washington. (Cengiz Çandar, "Iraq and the 'Friends of Turkey' American Hawks", Yeni Safak, 3 September 2002.)
Proyek Israel "Penguasaan Dunia secara Diam-Diam"
Singkatnya, terdapat kalangan di Washington yang mendorong terjadinya perang yang awalnya dilancarkan terhadap Irak, dan setelah itu terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri mereka paling kentara adalah mereka berbaris di samping, dan bahkan sama dengan, "lobi Israel."
Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara tentang "kepentingan Amerika," orang-orang ini sebenarnya mendukung kepentingan Israel. Strategi melancarkan peperangan terhadap seluruh Timur Tengah sehingga menjadikan seluruh rakyat di kawasan tersebut bangkit melawan AS tak mungkin akan menguntungkan pihak AS. Penggunaan strategi seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk pada Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa berpengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri negara tersebut.
Dengan alasan ini, maka di belakang strategi yang mulai dijalankan pasca 11 September dan yang ditujukan untuk merubah peta seluruh dunia Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk "menguasai dunia." Sejak pendiriannya, Israel telah bercita-cita merubah peta Timur Tengah, menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi menjadi ancaman baginya. Israel telah menggunakan pengaruhnya di AS untuk tujuan ini di tahun-tahun belakangan, dan memiliki andil besar dalam mengarahkan kebijakan Washington di Timur Tengah. Keadaan pasca 11 September memberi Israel kesempatan yang selama ini telah dicari-carinya. Para ideolog pro-Israel yang selama bertahun-tahun secara tidak benar telah menyatakan bahwa Islam sendirilah yang – dan bukan sejumlah kelompok radikal militan yang berbaju Islam – memunculkan ancaman terhadap Barat dan AS. Merekalah yang berusaha meyakinkan kebenaran gagasan keliru tentang "benturan antar peradaban," dan telah berupaya mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam setelah peristiwa 11 September. Sudah sejak tahun 1995, Israel Shahak dari Universitas Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan Perdana Menteri Rabin sebagai "gagasan perang melawan Islam yang dipimpin Israel." Nahum Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel, Yediot Ahronot, menyatakan di tahun yang sama bahwa Israel tengah mengalami kemajuan "[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang melawan musuh, yakni Islam." (Israel Shahak, "Downturn in Rabin's Popularity Has Several Causes", Washington Report on Middle East Affairs, Maret 1995.)
Semua yang telah terjadi di tahun-tahun berikutnya adalah bahwa Israel menjadikan niatannya semakin kentara. Iklim politik pasca 11 September memberikan peluang untuk mewujudkan niatan ini menjadi kenyataan. Dunia kini tengah menyaksikan tahap demi tahap menerapan kebijakan Israel dalam memecah-belah Irak, yang telah dirancang di Konggres Zionis Dunia pada tahun 1982.
Satu-Satunya Jalan Menuju Perdamaian Dunia: Persatuan Islam
Keadaan di atas dapat dirangkum sebagai berikut: Tujuan Israel adalah untuk menata ulang kawasan Timur Tengah menurut kepentingan strategisnya sendiri. Untuk mencapai hal ini, untuk menguasai Timur Tengah, wilayah paling mudah bergejolak di dunia, Israel memerlukan sebuah "kekuatan dunia." Kekuatan ini adalah Amerika Serikat; dan Israel, dengan kekuatan pengaruhnya terhadap AS, tengah berupaya menggadaikan kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Meskipun Israel adalah sebuah negara kecil berpenduduk 4,5 juta jiwa, rencana yang disusun Israel dan para pendukungnya di Barat mengendalikan keseluruhan dunia.
Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan ini?
1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka menandingi pengaruh lobi Israel di Amerika Serikat guna membangun dialog antara AS dan dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari cara damai dalam memecahkan permasalahan Irak dan permasalahan serupa lainnya. Banyak kalangan AS menginginkan negeri mereka mengambil kebijakan Timur Tengah yang lebih adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini, dan gerakan "perdamaian antar peradaban" harus digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan tersebut.
2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS kepada pemecahan masalah secara damai haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan masyarakat sipil.
Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling mendasar terletak pada sebuah proyek yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan antara dunia Islam dan Barat, dan dapat mengatasi perpecahan, penderitaan dan kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam.
Perkembangan terakhir telah menunjukkan bahwa seluruh dunia, tidak hanya wilayah-wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan Islam." Persatuan ini haruslah mampu meredam unsur-unsur radikal di Dunia Islam, dan membangun hubungan baik antar negara-negara Islam dan Barat, khususnya Amerika Serikat. Persatuan ini juga hendaknya membantu menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh permasalahan yang ada: perseteruan Arab-Israel. Hanya dengan penarikan diri Israel hingga batas wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada perdamaian sesungguhnya di Timur Tengah. Dan umat Yahudi dan Muslim – yang keduanya keturunan Nabi Ibrahim dan beriman pada satu Tuhan saja – dapat hidup berdampingan di Tanah Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel takkan lagi memerlukan strategi untuk mengganggu keamanan atau memecah-belah negara-negara Arab. Dan Israel takkan menghadapi balasan atas pendudukannya dalam bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu, keduanya, anak-anak Israel dan Irak (juga Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah yang seharusnya didambakan dan berusaha diwujudkan oleh setiap orang yang bijak.
DIPETIK DARI ARTIKEL HARUN YAHYA : DIBALIK PERANG IRAQ
.:: Kata-kata Hikmah ::.
Friday, March 20, 2009
Friday, February 13, 2009
Akhlak Rasulullah Adalah Al-Quran
.jpg)
Akhlak mulia adalah buah iman yang terhunjam di lubuk hati nurani seorang manusia. Orang yang sempurna imannya semestinya di sana dia memiliki akhlak yang sempurna. Sebaliknya orang yang runtuh akhlaknya menunjukkan atas keruntuhan iman yang ada di dalam dadanya.
Akhlak mulia adalah ciri utama bagi setiap muslim yang beriman kerana hakikat iman itu apabila ia wujud di dalam hati maka ia mampu memelihara segala tindakan dan perbuatan seseorang. Malah orang yang beriman bahawa Allah Taala itu mengetahui segala perbuatannya dan dia yakin bahawa Allah Taala akan membalas segala perbuatan yang dilakukannya itu pada hari Akhirat sudah pasti dia tidak berani melanggar dan melakukan sebarang maksiat baik terhadap Allah seperti meninggalkan solat fardhu mahupun terhadap makhluk seperti mengambil hak orang lain.
Dalam hal ini Rasulullah S.A.W ada bersabda yang maksudnya :
" Tidak sempurna iman seseorang itu yang tidak ada pada dirinya sifat amanah"
(hadis riwayat Ahmad)
Maka demikian, kita mendapati bahawa Rasulullah S.A.W. adalah orang yang paling sempurna imannya. Ini adalah berdasarkan kepada kesempurnaan akhlak dan keperibadian Baginda S.A.W yang tinggi. Jadi, manusia yang paling tinggi tingkatan keimanannya ialah manusia yang paling tinggi akhlak dan budi pekertinya sehingga ketika Saidatina 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha ditanya tentang akhlak dan sifat Baginda S.A.W, maka beliau menjawab :
"Akhlak Rasulullah S.A.W itu adalah Al-Qur'an"
(hadis riwayat muslim)
Maksudnya, Rasulullah S.A.W adalah memiliki akhlak yang paling tinggi seperti yang diterangkan di dalam al-Qur'an kerana Baginda S.A.W telah mengamalkan segala sifat-sifat kemuliaan yang diperintahkan di dalam Al-Qur'an dan Baginda S.A.W telah meninggalkan segala sifat-sifat kecelaan yang telah dilarang di dalam Al-Qur'an. Maka di sini, yakin dan percayalah bahawa Rasulullah S.A.W itu merupakan contoh tauladan yang hidup kepada segala akhlak mulia yang dikehendaki di dalam Al-Qur'an.
Ketinggian dan kemuliaan akhlak Baginda S.A.W telah diakui oleh para sahabat, yang merupakan kawan malah diakui juga oleh musuh dan lawannya. Begitu banyak peristiwa-peristiwa yang mana disebutkan di dalam riwayat hidupnya. Apatah lagi bilamana Allah meyakinkan dan menegaskan di dalam firman-Nya yang bermaksud :
"Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada di atas akhlak yang sangat agung (mulia)"
( surah al-Qalam : 4 )
Oleh itu, Allah Taala menyuruh kita sebagai umat kekasih-Nya supaya mengikuti kesemua akhlak yang ada pada diri Rasulullah S.A.W dan menjadikan baginda S.A.W itu sebagai ikutan dan teladan sepertimana disebutkan dalam firman-Nya yang bermaksud :
"Sesungguhnya bagi kamu semua pada diri Rasulullah itu merupakan contoh tauladan yang baik"
( surah al-Ahzab : 12 )
Begitulah sebagaimana dalam hadis Baginda S.A.W, yang mana telah dinyatakan di dalam sabdanya:
"Hanyasanya aku ( Muhammad ) diutuskan ( oleh Allah Taala ) bagi menyempurnakan akhlak yang mulia"
( hadis riwayat malik di dalam muwatta' )
Jelaslah kepada kita tentang tujuan Rasulullah S.A.W diutuskan oleh Allah Taala bagi mengajar hamba-hamba-Nya dan umat-umat kekasih-Nya berakhlak mulia sama ada terhadap diri-Nya mahupun terhadap sesama makhluk-makhluk-Nya. Al-Qur'an dan al-Hadis telah memaparkan kepada kita contoh-contoh yang ideal daripada ketinggian akhlak Baginda S.A.W dan memuatkan tunjuk ajar yang Baginda S.A.W berikan untuk membimbing kita ke arah kesempurnaan akhlak yang merupakan gambaran luar terhadap kekuatan iman yang menghunjam di dalam diri dan hati kita.
Sama-samalah kita berdoa, mudah-mudahan Allah S.W.T senantiasa melimpahi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sehinggalah kita dapat mengikuti dan mencontohi akhlak Rasulullah S.A.W sesempurnanya. Malah, sama-samalah kita panjatkan doa semoga kita dikumpulkan di padang Mahsyar kelak bersama-sama dengan Baginda S.A.W dan mendapat syafa'at 'uzma daripada Baginda S.A.W.
Berdoalah sehari-hari, semoga kita dikumpulkan di dalam syurga Firdaus bersama-sama dengan Baginda S.A.W dan bersama-sama dengan hamba-hamba Allah yang soleh...
Amien Ya Rabbal 'Alamin...
Rajin Berusaha, Sabar bila Susah dan Syukur bila Senang
Daripada Miqdad bin Ma'dikarib r.a daripada Rasulullah S.A.W, baginda bersabda :
"Tidak memakan seorang daripada kamu akan sesuatu makanan yang lebih baik daripada makanan yang diusahakannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s adalah seorang yang memakan makanan hasil daripada titik peluhnya sendiri"
(hadis riwayat Bukhari)
Allah Taala telah menundukkan langit dan bumi malah segala isinya untuk memenuhi keperluan hidup manusia yang bertugas di atas muka bumi ini sebagai khalifah-Nya. Diciptakan-Nya awan yang membawa hujan, pepohonan yang menghijau, gunung-ganang yang menjulang tinggi, sungai-sungai yang mengalir airnya dan berbagai-bagai jenis binatang, baik yang melata di atas muka bumi atau yang hidup di dalam laut atau yang terbang di udara. Maka segalanya ini ditundukkan oleh Allah untuk kepentingan manusia yang ditugaskan sebagai khalifah yang bertanggungjawab mengatur segala sesuatu yang ada di atas muka bumi ini.
Oleh kerana itu hendaklah manusia melaksanakan tanggungjawabnya dengan mengatur kehidupannya di permukaan bumi ini dengan sebaik-baiknya dan mengusahakan atau memproses segala sesuatu yang telah ditundukkan Allah kepadanya. Maka dengan itu akan majulah kehidupan manusia ini dan akan bertambah banyaklah faedah yang didapati dari segala bahan mentah yang telah disediakan di hadapannya.
Jadi, hendaklah manusia itu rajin bekerja atau memproses bahan mentah yang telah disediakan di hadapannya seperti halnya Nabi Daud a.s. yang berusaha sebagai tukang besi, Nabi Nuh a.s. sebagai tukang kayu, Nabi Sulaiman a.s. sebagai raja yang mengatur pemerintahan dan Nabi kita Muhammad S.A.W yang berusaha memelihara kambing pada waktu kecilnya, berniaga pada waktu remajanya dan memimpin negara setelah baginda berhijrah ke Madinah dan seterusnya.
Begitu pula kita lihat di kalangan para sahabat. Ada yang berniaga seperti Abu Bakar r.a, Umar r.a. , Uthman bin Affan r.a dan Abdurrahman bin 'Auf r.a. Ada yang bertani seperti kebanyakakn orang-orang ansar dan begitu dengan yang lain.
Orang mukmin adalah orang yang bertuah dalam hidupnya walaupun dia terpaksa berhadapan dengan berbagai-bagai ujian hidup yang penuh dengan liku-likunya. hidupnya selalu tenang dan tidak punyai banyak masalah. Dia memiliki ketenangan jiwa yang diburu oleh orang-orang yang mencari kepuasan hidup dalam dunia ini.
Namun, mereka pasti tidak menjumpainya kalau bukan dengan iman. Kepuasan hidup dan ketenangan jiwa hanya akan dinikmati oleh orang yang benar-benar beriman. Di mana hatinya tenang dalam menghadapi berbagai-bagai keadaan. Apabila dia berada dalam kenikmatan dan kesenangan, dia akan bersyukur kepada Allah dan menggunakan nikmat itu untuk mencari keredhaan Allah S.W.T, baik untuk kegunaan dirinya sendiri atau untuk kebaikan orang lain sebagai sedekah atau pertolongan. Dia memahami dunia ini hanyasanya tempat ujian dan kesusahan dan akhirat nanti adalah tempat kebahagiaan yang sebenarnya.
Mereka yang beriman itu tak mudah lupa daratan dan sentiasa bersyukur atas nikmat pemberian Allah. Tidak mudah mengikut hawa nafsu dan bertindak sesuka hati kerana mereka yakin dengan janji Allah buat mereka selepas masa yang di nanti akan tiba sewaktu mereka dibangkitkan semula di padang Mahsyar kelak...
Ya Allah..Kau takdirkanlah diriku ini mati dalam husnul khatimah..dan janganlah Kau matikan diriku dalam su'ul khatimah..Kau golongkanlah aku bersama-sama mereka yang solihin dan 'abidin yang mukhlisin..amien..
"Tidak memakan seorang daripada kamu akan sesuatu makanan yang lebih baik daripada makanan yang diusahakannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s adalah seorang yang memakan makanan hasil daripada titik peluhnya sendiri"
(hadis riwayat Bukhari)
Allah Taala telah menundukkan langit dan bumi malah segala isinya untuk memenuhi keperluan hidup manusia yang bertugas di atas muka bumi ini sebagai khalifah-Nya. Diciptakan-Nya awan yang membawa hujan, pepohonan yang menghijau, gunung-ganang yang menjulang tinggi, sungai-sungai yang mengalir airnya dan berbagai-bagai jenis binatang, baik yang melata di atas muka bumi atau yang hidup di dalam laut atau yang terbang di udara. Maka segalanya ini ditundukkan oleh Allah untuk kepentingan manusia yang ditugaskan sebagai khalifah yang bertanggungjawab mengatur segala sesuatu yang ada di atas muka bumi ini.
Oleh kerana itu hendaklah manusia melaksanakan tanggungjawabnya dengan mengatur kehidupannya di permukaan bumi ini dengan sebaik-baiknya dan mengusahakan atau memproses segala sesuatu yang telah ditundukkan Allah kepadanya. Maka dengan itu akan majulah kehidupan manusia ini dan akan bertambah banyaklah faedah yang didapati dari segala bahan mentah yang telah disediakan di hadapannya.
Jadi, hendaklah manusia itu rajin bekerja atau memproses bahan mentah yang telah disediakan di hadapannya seperti halnya Nabi Daud a.s. yang berusaha sebagai tukang besi, Nabi Nuh a.s. sebagai tukang kayu, Nabi Sulaiman a.s. sebagai raja yang mengatur pemerintahan dan Nabi kita Muhammad S.A.W yang berusaha memelihara kambing pada waktu kecilnya, berniaga pada waktu remajanya dan memimpin negara setelah baginda berhijrah ke Madinah dan seterusnya.
Begitu pula kita lihat di kalangan para sahabat. Ada yang berniaga seperti Abu Bakar r.a, Umar r.a. , Uthman bin Affan r.a dan Abdurrahman bin 'Auf r.a. Ada yang bertani seperti kebanyakakn orang-orang ansar dan begitu dengan yang lain.
Orang mukmin adalah orang yang bertuah dalam hidupnya walaupun dia terpaksa berhadapan dengan berbagai-bagai ujian hidup yang penuh dengan liku-likunya. hidupnya selalu tenang dan tidak punyai banyak masalah. Dia memiliki ketenangan jiwa yang diburu oleh orang-orang yang mencari kepuasan hidup dalam dunia ini.
Namun, mereka pasti tidak menjumpainya kalau bukan dengan iman. Kepuasan hidup dan ketenangan jiwa hanya akan dinikmati oleh orang yang benar-benar beriman. Di mana hatinya tenang dalam menghadapi berbagai-bagai keadaan. Apabila dia berada dalam kenikmatan dan kesenangan, dia akan bersyukur kepada Allah dan menggunakan nikmat itu untuk mencari keredhaan Allah S.W.T, baik untuk kegunaan dirinya sendiri atau untuk kebaikan orang lain sebagai sedekah atau pertolongan. Dia memahami dunia ini hanyasanya tempat ujian dan kesusahan dan akhirat nanti adalah tempat kebahagiaan yang sebenarnya.
Mereka yang beriman itu tak mudah lupa daratan dan sentiasa bersyukur atas nikmat pemberian Allah. Tidak mudah mengikut hawa nafsu dan bertindak sesuka hati kerana mereka yakin dengan janji Allah buat mereka selepas masa yang di nanti akan tiba sewaktu mereka dibangkitkan semula di padang Mahsyar kelak...
Ya Allah..Kau takdirkanlah diriku ini mati dalam husnul khatimah..dan janganlah Kau matikan diriku dalam su'ul khatimah..Kau golongkanlah aku bersama-sama mereka yang solihin dan 'abidin yang mukhlisin..amien..
.:: Iman Penggerak Kehidupan Dinamik ::.

Perubahan suatu masyarakat tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Berbagai bangsa di dunia mencapai kebangkitan setelah tidur, menjadi kuat setelah mengalami kelemahan, dan mengalami kemajuan setelah mundur; setelah mereka mendapat didikan sihat dan baik. Atau dengan lain perkataan, setelah mengalami perubahan jiwa dan pola berfikir. Mereka yang asalnya pasif menjadi aktif dan yang berputus asa menjadi bersemangat dan berkemahuan keras.
Perubahan jiwa merupakan suatu pembaharuan dan perubahan dalam falsafah dan pandangan hidup, cita-cita dan semangat, kehendak dan kebiasaan. Setiap gerakan dan kebangkitan, politik dan ekonomi hendaknya sejalan dengan perubahan jiwa dan semangat.
Demikianlah sunnatullah, hukum Allah Subha Nahu Wa Ta'ala dalam kehidupan ini seperti yang ditegaskan di dalam Al-Quran dengan kalimat yang singkat tetapi tepat, iaitu;
"Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah (keadaan mereka) sendiri." [Ar-raad:11]
Perubahan diri dan semangat bukanlah suatu hal yang mudah dan ringan untuk dilakukan, tetapi sebaliknya merupakan suatu hal yang berat dan sulit. Sebab manusia merupakan makhluk yang dalam dirinya bertemu dan bercampur berbagai macam sifat dan keadaan. Usaha membendung aliran sungai yang besar dan mengubah arah alirannya merupakan pekerjaan yang jauh lebih ringan daripada pekerjaan mengubah jiwa, pandangan hidup dan pola berfikir manusia.
Membangunkan satu perusahaan, membina sekolah dan membangunkan bangunan-bangunan, mudah dilakukan. Namun membangunkan jiwa dan mengubah pandangan hidup, amatlah sukar. Bukanlah pekerjaan ringan untuk menjadikan manusia agar dapat menguasai nafsunya, mengekang syahwatnya, mahu memberi di samping menerima, mahu menunaikan kewajibannya disamping mengambil dan menuntut haknya, mahu mengetahui dan menerima kebenaran, dan berani membela serta menegakkan kebenaran itu. Membentuk manusia yang mahu bersusah payah dan menanggung keletihan untuk memperbaiki keadaan yang rosak, rela berkorban untuk mengajak dan menyeru manusia melakukan kebajikan, mencegah kemungkaran, rela mengorbankan jiwa dan harta di jalan kebenaran; adalah merupakan pekerjaan yang tidak mudah dicapai.
Walaubagaimanapun, kekuatan iman merupakan sesuatu yang 'ajaib'. Iman dapat mempersiapkan jiwa manusia untuk menerima pemikiran yang segar, walaupun hal itu mengandung tanggungjawab dan kewajipan, pengorbanan dan kesusahan. Imanlah satu-satunya unsur yang dapat mencetuskan perubahan dalam jiwa manusia dan mampu memberikan manusia satu nafas baru, yang akan diikuti pula dengan perubahan pada pandangan hidup dan jalan hidup yang ditempuhnya. Seterusnya akan berubah pula perilaku, cita-cita, perasaan dan pertimbangan hidupnya. Kalau kita amati seseorang yang melalui kehidupan pada dua keadaan; sebelum dan selepas Islam, akan jelas kepada kita bahawa kehidupannya selepas tunduk kepada Islam tidak sama dengan keadaan sebelumnya.
Iman akan memberikan pengaruh drastik kepada kehidupan seseorang tanpa mengira peringkat kehidupan seseorang. Tidak seperti teori para psikologis dan para pendidik, di mana mereka mengandaikan keberkesanan pendidikan adalah terbatas kepada peringkat-peringkat tertentu dalam kehidupan seseorang manusia.
Para psikologis telah menetapkan zaman kanak-kanak sebagai masa penerimaan dan pembentukan tingkah laku. Jika satu sifat tertentu telah tertanam dalam jiwa seseorang, sulitlah untuk dilakukan perubahan kerana telah menjadi sifat yang tetap. Bebeza halnya dengan pengaruh kekuatan iman. Apabila iman telah tertanam dan tumbuh di dalam jiwa seseorang, maka iman ini akan mengubah tujuan hidup seseorang, dan mengubah pandangan hidupnya, baik tentang alam, maupun kehidupan ini. Semuanya tidak terbatas kepada masa, baik pada zaman kanak-kanak, remaja, dewasa maupun pada masa tua.
Sebagai contoh, lihatlah kisah tukang-tukang sihir Firaun, seperti yang dikisahkan di dalam Al-Quran dalam surah Asy-Syuara ayat 32 hingga 51, dan pendirian mereka terhadap ancaman Firaun untuk menyiksa dan membunuh mereka apabila mereka beriman kepada Allah Subha Nahu Wa Ta'ala sebagaimana diceritakan oleh Allah Subha Nahu Wa Ta'ala dalam surah Thaha, ayat 71 hingga 73.
Perhatikan, bagaimana besarnya perubahan jiwa tukang-tukang sihir itu setelah beriman. Pandangan dan pertimbangan akal fikiran mereka telah berubah, bagai siang dan malam. Betapa manisnya iman yang mereka nikmati, sehingga dengan tegas dan berani, mereka menjawab ancaman Firaun, "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami."
Iman memberikan seseorang suatu didikan yang baik, sehingga terbentuk peribadi yang baik yang yakin kepada Allah, takut kepada siksaan-Nya, tunduk merendah diri kepada-Nya, bersedia menjalankan perintah-Nya, bekerja, berjuang dan berkorban dengan harta, jiwa dan raga, penuh keikhlasan dengan hanya mengharapkan keredhaan-Nya.
Oleh kerana itu, seoraang peniaga atau usahawan yang beriman, akan menjadi peniaga atau usahawan yang jujur. Seorang miskin yang beriman akan selalu menjaga kehormatannya dan selalu bekerja keras. Seorang buruh atau pegawai yang beriman akan menjadi buruh atau pegawai yang dedikasi dan jujur. Seorang kaya yang beriman akan menjadi seorang yang dermawan dan suka menolong. Seorang hakim yang beriman akan menjadi hakim yang adil dan saksama. Orang yang beriman apabila diberikan kepercayaan untuk menjaga harta milik umum, maka ia akan menjaganya dengan amanah. Tegasnya iman dapat membentuk peribadi yang ulung dan agung pada diri seseorang.
Daripada peribadi-peribadi yang lahir itulah akan terbentuk masyarakat Islam yang baik dan memberi kebaikan, baik kepada individu mahupun masyarakat, dunia dan akhirat. Untuk membangunkan satu masyarakat yang adil, makmur dan beradab, tidak dapat tidak, jiwa individu yang menganggotai sesuatu masyarakat itu perlulah dibina dengan iman. Inilah yang telah dilaksanakan oleh junjungan mulia Rasulullah SallaLlahu 'alaihi Wasallam.
Rujukan: Iman dan Kehidupan, Yusuf Qaradawi
Monday, January 26, 2009
.:: Sedarlah Insan ::.

Di kala malam hari
Tatkala insan lena dibuai mimpi
Aku termenung di sisi mimpi
Mentafsirkan diri sang pencari
" Tidak Aku (Allah SWT) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk ber'ubudiah kepadaKu"
Adz-Dzariyat {56}
Mengapakah kita di sini?
Adakah semata-mata
makan...
minum...
tidur...
bermain...
bernafas...
Hatiku ingin bertanya
Kepada setiap insan
Insan yang bergelar manusia
Adakah kita menghargai
Nikmat kehidupan dan keimanan
Nikmat Islam yang dikecapi
Kita membazirkan semua itu!
Tatkala Yang Memberi
Memberi secara percuma
Bagaimanakah kita membalasnya?
Kehidupan kita penuh dengan kelalaian dan kemewahan
Tatkala saudara-saudara kita yang lain
Palestin...
Afghanistan...
Iraq...
Semuanya terseksa dek kesunyian kebangkitan kita
" Adakah kita berani mengaku kepada Allah SWT bahawa kita beriman... Tatkala kita belum diuji?"
Sedarlah wahai saudara seaqidahku
Kehidupan Islam yang dagang
Menuntut kebangkitan dan kesedaran
Daripada kita umat yang terlena
"Maka beruntunglah barangsiapa jika dia berjuang tatkala Islam dalam keadaan dagang"
Salam mahabbah dari "Kesetiaan Yang Sempurna". Coretan kali ini merupakan coretan perkongsian ataupun perkongsian hati dari ana tatkala kita semua melihat mata umat kita terpejam erat dan musuh-musuh Islam sentiasa menyerang kita daripada setiap penjuru.
Di manakah kekuatan hati-hati seaqidah kita? sesungguhnya benralah kata-kata Rasulullah SAW,
" Umat Islam pada akhir zaman ini ramai, tetapi kita ibarata buih-buih di lautan..."
Memang! Tidakkah kita sedar bahawa umat Islam pada hari ini sedang berpecah-belah? Perlukah kita disimbah dengan air agar kita bangun daripada lena yang panjang.
Di sini saya ingin menyeru pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi;
Bangkitlah oh puteraku...dari lena yang panjang
berjuang bagai perwira yang berjasa
Bangunlah oh puteriku...dari mimpi yang palsu
pelihara maruah dan agamamu
Labels:
.:: Sedarlah Insan ::.
.:: Kehidupan Dalam Iman ::.
Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara ialah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan dan mereka akan selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kesedihan, kemurkaan, dan kehinaan.
" Dan sesiapa yang berpaling ingkar dari ingatan dan petunjukKu maka sesungguhnya baginya adlh hidup yang sempit."
Tidak ada sesuatu yg dapat membahagiakan jiwanya melainkan keimanan yang benar kpd Allah SWT, Tuhan alam semesta. Pendek kata hidup akan hambar tanpa iman. Menurut pelbagai golongan pembangkang Allah yg sama sekali tidak beriman, cara terbaik utk menenangkan jiwa adlh dengan membunuh diri. Menurut mereka, dgn bunuh diri org akan dijauhkan dari segala tekanan, kegelapan dan bencana dalam hidupnya. Alangkah malangnya hidup yang miskin iman. Dan betapa pedihnya seksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang melencong dari bimbingan Allah di akhirat nanti.
" Dan Kami palingkan hati mereka dan pandangan mereka sebagaimana mereka telah tidak mahu beriman kpd ayat-ayat Kami ketika datang kpd mereka pada awal mulanya, dan Kami biarkan mereka teraba-raba di dlm kesesatannya dengan bingung."
Kini sudah tiba masanya dunia menerima dgn tulus ikhlas dan beriman dgn sesungguhnya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Bagaimanapun, pengalaman dan ujian sepanjang sejarah hidup di dunia ini dari abad berabad sudah membuktikan banyak hal, menyedarkan akal bahawa berhala-berhala itu tahyul belaka, kekafiran itu punca malapetaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya dan Allah betul-betul Penguasa di muka bumi dan langit.
Seberapa besar iman anda maka setakat itulah pula kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian, dan ketenangan jiwa anda. Tujuan hidup yg baik (hayatun thayyibah) ialah ketenangan jiwa mereka disebabkan janji baik Tuhan mereka, keteguhan hati mereka dlm mencintai Zat yg menjadikan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dlm menerima dan mengharungi ketentuan Ilahi, dan keikhlasan mereka dlm menerima takdir. Dan itu semua adlh kerana mereka betul-betul yakin dan ikhlas menerima bahawa Allah sebagai Tuhan mereka, Islam sebagai cara hidup mereka dan Muhammad itu pesuruh Allah SWT.
" Dan sesiapa yang berpaling ingkar dari ingatan dan petunjukKu maka sesungguhnya baginya adlh hidup yang sempit."
Tidak ada sesuatu yg dapat membahagiakan jiwanya melainkan keimanan yang benar kpd Allah SWT, Tuhan alam semesta. Pendek kata hidup akan hambar tanpa iman. Menurut pelbagai golongan pembangkang Allah yg sama sekali tidak beriman, cara terbaik utk menenangkan jiwa adlh dengan membunuh diri. Menurut mereka, dgn bunuh diri org akan dijauhkan dari segala tekanan, kegelapan dan bencana dalam hidupnya. Alangkah malangnya hidup yang miskin iman. Dan betapa pedihnya seksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang melencong dari bimbingan Allah di akhirat nanti.
" Dan Kami palingkan hati mereka dan pandangan mereka sebagaimana mereka telah tidak mahu beriman kpd ayat-ayat Kami ketika datang kpd mereka pada awal mulanya, dan Kami biarkan mereka teraba-raba di dlm kesesatannya dengan bingung."
Kini sudah tiba masanya dunia menerima dgn tulus ikhlas dan beriman dgn sesungguhnya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Bagaimanapun, pengalaman dan ujian sepanjang sejarah hidup di dunia ini dari abad berabad sudah membuktikan banyak hal, menyedarkan akal bahawa berhala-berhala itu tahyul belaka, kekafiran itu punca malapetaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya dan Allah betul-betul Penguasa di muka bumi dan langit.
Seberapa besar iman anda maka setakat itulah pula kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian, dan ketenangan jiwa anda. Tujuan hidup yg baik (hayatun thayyibah) ialah ketenangan jiwa mereka disebabkan janji baik Tuhan mereka, keteguhan hati mereka dlm mencintai Zat yg menjadikan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dlm menerima dan mengharungi ketentuan Ilahi, dan keikhlasan mereka dlm menerima takdir. Dan itu semua adlh kerana mereka betul-betul yakin dan ikhlas menerima bahawa Allah sebagai Tuhan mereka, Islam sebagai cara hidup mereka dan Muhammad itu pesuruh Allah SWT.
Saturday, January 24, 2009
.:: Sudikah Menjadi Isteri Kedua Saya?? ::.
"Saya ingat kita lama berkawan, awak masih bujang. Tapi rupa-rupanya. .." Fatimah mula sebak. "Tak. Maksud saya....."
"Sudah! Jangan bermulut manis lagi. Cukup!" potong Fatimah dengan kasar.
"Awak nampak macam alim, tapi sanggup menipu saya. Dan awak sanggup melamar saya menjadi isteri kedua awak. Awak ingat saya ni siapa?" suara Fatimah semakin tinggi, setinggi egonya.
Fikri diam seribu bahasa. Dia sudah tahu `Fatimah' di sebalik Fatimah yang dia kenal selama ini.
Fatimah bergegas dari situ sambil mengelap air mata dengan tudung labuhnya berwarna kuning. Dalam hatinya, Fikri seolah-olah menghinanya apabila memujuknya untuk bermadu. Fikri muram. Namun masih terselit kekecewaan di sudut hatinya. Kekasih hatinya belum bersedia rupa-rupanya.
"Ada hikmah," bisik hati kecil Fikri, sekecil pandangannya terhadap Fatimah.
Hujung minggu berjalan seperti biasa. Program-program dakwah menyibukkan jadual Fikri sebagai seorang muslim yang beramal dengan apa yang diyakininya. Duitnya banyak dihabiskan untuk memenuhi tuntutan dakwah yang seringkali memerlukan pengorbanan yang tidak berbelah bahagi. Namun, hatinya tegas dan yakin bahawa inilah jalannya. Jalan yang membawa dia menemui Tuhannya dengan hati yang tenang serta bahagia di hari kelak.
Keyakinan serta keaktifan Fikri berdakwah sedikit sebanyak memenangi hati gadis-gadis dalam jemaahnya. Malah, Fikri dilihat sebagai calon suami yang bakal memandu keluarganya nanti ke arah memperjuangkan agama yang dianutinya sejak sekian lama. Sudah terlalu ramai muslimah yang menaruh hati padanya, namun, Fatimah terlebih dahulu rapat dan memenangi hati Fikri. Bagi Fatimah, Fikri seperti pelengkap kepada dirinya. Namun, hanya sehingga saat Fikri melamarnya menjadi isteri kedua.
Fikri masih lagi aktif dalam dakwah meskipun hubungannya dengan Fatimah nampak seperti tiada jalan penyelesaian. Dia mahu berbaik dengan Fatimah, namun sikap Fatimah yang keras dan kurang memahami erti dakwah membantutkan usaha Fikri tersebut. Bagi Fatimah, Fikri tak ubah seperti lelaki lain.
Gerak kerja dakwah Fikri berjalan seperti biasa. Siangnya ke hulu ke hilir memenuhi program serta amal jariah kepada masyarakat. Malamnya sibuk dengan mesyuarat dengan sahabat-sahabat seangkatannya. Fikri semakin percaya jalan dakwahnya, sama sekali dia tidak akan berganjak dari jalan ini hatta datang ancaman sebesar gunung sekalipun. Dia terlalu matang, jauh sekali daripada pemikiran pendakwah lain yang semudanya.
Namun, Allah s.w.t. Maha Mengetahui lagi Maha Pemurah. Sekali lagi Dia menghantar seorang perempuan bagi menguji Fikri sama ada dia menjadi pemangkin atau perencat bagi dakwah Fikri.
Suatu petang dalam suatu program dakwah di sebuah madrasah, Fikri dikejutkan dengan luahan ikhlas dari sahabat lamanya, Nusaibah. Fikri sekali lagi gusar takut-takut Nusaibah tidak dapat menjadi sayap kiri perjuangannya selepas berumahtangga nanti. Isteri pertamanya sudah pasti membawa Fikri menemui Tuhannya, namun, Nusaibah yang kurang dikenalinya adakah sama seperti Fatimah atau tidak?
Fikri bercelaru, tetapi tidak bermakna lamaran Nusaibah ditolak. Dia meminta sedikit masa untuk memikirkan keputusan tersebut.
Setelah merisik pemikiran Nusaibah daripada beberapa sahabat terdekatnya, Fikri berjumpa dengan Nusaibah bertemankan sahabat baiknya. Dengan tegas dan yakin, sekali lagi Fikri mengulangi soalan yang pernah ditanya kepada Fatimah.
"Awak sudi jadi isteri kedua saya?" tanya Fikri tanpa segan silu.
"Sudi," jawab Nusaibah ringkas.
"Er, betul ke ni?" tergagap Fikri menerima jawapan Nusaibah yang tenang dan yakin.
Nusaibah mengangguk kepalanya sedikit. Langsung tiada rasa takut mahupun kecewa apabila lamaran sebagai isteri kedua yang dilafazkan oleh Fikri.
"Kenapa saya?" tanya Fikri ingin tahu.
"Saya ingin membantu gerak kerja dakwah awak," jawab Nusaibah yakin tetapi sedikit malu.
"Baiklah," jawab Fikri tersenyum.
Akhirnya, Fikri dikurniakan sayap kiri yang sangat membantu dalam gerak kerja dakwahnya selama ini.Setelah seminggu mendirikan rumahtangga bersama Nusaibah, Fikri terasa dakwahnya semakin laju. Jadualnya senang, pakaiannya dijaga, makannya disedia. Malah, Nusaibah sangat membantu gerak kerja Fikri semampu mungkin. Setiap kali turun ke lapangan untuk berdakwah, Fikri membawa Nusaibah untuk membantu kerja dakwah seadanya.
Kadang-kala letih menyinggah Nusaibah. Suaminya terlalu kerap keluar berdakwah, seperti mesin yang tiada hayat. Namun, inilah yang dia yakini sebelum berkahwin dengan Fikri. Membantu suami melancarkan gerak kerja dakwah. Nusaibah juga berjaga-jaga takut dirinya pula yang menjadi pembantut atau penghalang dakwah suaminya.
"Abang, saya nak tanya boleh?" sapa Nusaibah dalam kereta sewaktu dalam perjalanan ke sebuah program dakwah.
"Ya sayang?" jawab Fikri sambil memandu.
"Abang tak pernah pun bawa saya jumpa isteri pertama abang," luah Nusaibah yang sangat teringin berjumpa dengan madunya.
"Dah sampai sana nanti, kita akan jumpa," Fikri menoleh sedikit ke arah Nusaibah, sambil tersenyum.
"Yeke? Dia datang program tu rupanya," jawab Nusaibah riang.
Hatinya berdebar ingin berjumpa madunya yang banyak membantu Fikri dalam gerak kerja dakwah. Di sudut kecil Nusaibah, dia merendah diri kerana usahanya membantu dakwah suaminya hanya sedikit berbanding dengan isteri pertama Fikri yang banyak membantu selama ini. Tidak hairanlah Fikri aktif dalam dakwah sebelum ini.
"Kita dah sampai," Fikri membuka pintu keretanya sambil memegang beg berisi fail ditangannya. Fikri berdiri, mengadap ke arah sebuah khemah di hadapan masjid, lalu menoleh ke arah Nusaibah yang berdiri di sebelah kiri kereta.
"Itu isteri pertama abang," Fikri menuding jari ke arah khemah tersebut.
"Mana bang?" Nusaibah mengecilkan matanya, fokusnya mencari arah jari Fikri. "Tak nampak pun," Nusaibah meninggikan sedikit hadapan kakinya.
"Siapa nama isteri pertama abang?"Nusaibah sangat berdebar.
Fikri tersenyum lebar, memandang Nusaibah penuh tenang.
"PERJUANGAN" jawab Fikri.
*** "Katakanlah (Wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." [QS al-Taubah 9:24]
Dipetik dari blogspot http://promat8.blogspot.com/
"Sudah! Jangan bermulut manis lagi. Cukup!" potong Fatimah dengan kasar.
"Awak nampak macam alim, tapi sanggup menipu saya. Dan awak sanggup melamar saya menjadi isteri kedua awak. Awak ingat saya ni siapa?" suara Fatimah semakin tinggi, setinggi egonya.
Fikri diam seribu bahasa. Dia sudah tahu `Fatimah' di sebalik Fatimah yang dia kenal selama ini.
Fatimah bergegas dari situ sambil mengelap air mata dengan tudung labuhnya berwarna kuning. Dalam hatinya, Fikri seolah-olah menghinanya apabila memujuknya untuk bermadu. Fikri muram. Namun masih terselit kekecewaan di sudut hatinya. Kekasih hatinya belum bersedia rupa-rupanya.
"Ada hikmah," bisik hati kecil Fikri, sekecil pandangannya terhadap Fatimah.
Hujung minggu berjalan seperti biasa. Program-program dakwah menyibukkan jadual Fikri sebagai seorang muslim yang beramal dengan apa yang diyakininya. Duitnya banyak dihabiskan untuk memenuhi tuntutan dakwah yang seringkali memerlukan pengorbanan yang tidak berbelah bahagi. Namun, hatinya tegas dan yakin bahawa inilah jalannya. Jalan yang membawa dia menemui Tuhannya dengan hati yang tenang serta bahagia di hari kelak.
Keyakinan serta keaktifan Fikri berdakwah sedikit sebanyak memenangi hati gadis-gadis dalam jemaahnya. Malah, Fikri dilihat sebagai calon suami yang bakal memandu keluarganya nanti ke arah memperjuangkan agama yang dianutinya sejak sekian lama. Sudah terlalu ramai muslimah yang menaruh hati padanya, namun, Fatimah terlebih dahulu rapat dan memenangi hati Fikri. Bagi Fatimah, Fikri seperti pelengkap kepada dirinya. Namun, hanya sehingga saat Fikri melamarnya menjadi isteri kedua.
Fikri masih lagi aktif dalam dakwah meskipun hubungannya dengan Fatimah nampak seperti tiada jalan penyelesaian. Dia mahu berbaik dengan Fatimah, namun sikap Fatimah yang keras dan kurang memahami erti dakwah membantutkan usaha Fikri tersebut. Bagi Fatimah, Fikri tak ubah seperti lelaki lain.
Gerak kerja dakwah Fikri berjalan seperti biasa. Siangnya ke hulu ke hilir memenuhi program serta amal jariah kepada masyarakat. Malamnya sibuk dengan mesyuarat dengan sahabat-sahabat seangkatannya. Fikri semakin percaya jalan dakwahnya, sama sekali dia tidak akan berganjak dari jalan ini hatta datang ancaman sebesar gunung sekalipun. Dia terlalu matang, jauh sekali daripada pemikiran pendakwah lain yang semudanya.
Namun, Allah s.w.t. Maha Mengetahui lagi Maha Pemurah. Sekali lagi Dia menghantar seorang perempuan bagi menguji Fikri sama ada dia menjadi pemangkin atau perencat bagi dakwah Fikri.
Suatu petang dalam suatu program dakwah di sebuah madrasah, Fikri dikejutkan dengan luahan ikhlas dari sahabat lamanya, Nusaibah. Fikri sekali lagi gusar takut-takut Nusaibah tidak dapat menjadi sayap kiri perjuangannya selepas berumahtangga nanti. Isteri pertamanya sudah pasti membawa Fikri menemui Tuhannya, namun, Nusaibah yang kurang dikenalinya adakah sama seperti Fatimah atau tidak?
Fikri bercelaru, tetapi tidak bermakna lamaran Nusaibah ditolak. Dia meminta sedikit masa untuk memikirkan keputusan tersebut.
Setelah merisik pemikiran Nusaibah daripada beberapa sahabat terdekatnya, Fikri berjumpa dengan Nusaibah bertemankan sahabat baiknya. Dengan tegas dan yakin, sekali lagi Fikri mengulangi soalan yang pernah ditanya kepada Fatimah.
"Awak sudi jadi isteri kedua saya?" tanya Fikri tanpa segan silu.
"Sudi," jawab Nusaibah ringkas.
"Er, betul ke ni?" tergagap Fikri menerima jawapan Nusaibah yang tenang dan yakin.
Nusaibah mengangguk kepalanya sedikit. Langsung tiada rasa takut mahupun kecewa apabila lamaran sebagai isteri kedua yang dilafazkan oleh Fikri.
"Kenapa saya?" tanya Fikri ingin tahu.
"Saya ingin membantu gerak kerja dakwah awak," jawab Nusaibah yakin tetapi sedikit malu.
"Baiklah," jawab Fikri tersenyum.
Akhirnya, Fikri dikurniakan sayap kiri yang sangat membantu dalam gerak kerja dakwahnya selama ini.Setelah seminggu mendirikan rumahtangga bersama Nusaibah, Fikri terasa dakwahnya semakin laju. Jadualnya senang, pakaiannya dijaga, makannya disedia. Malah, Nusaibah sangat membantu gerak kerja Fikri semampu mungkin. Setiap kali turun ke lapangan untuk berdakwah, Fikri membawa Nusaibah untuk membantu kerja dakwah seadanya.
Kadang-kala letih menyinggah Nusaibah. Suaminya terlalu kerap keluar berdakwah, seperti mesin yang tiada hayat. Namun, inilah yang dia yakini sebelum berkahwin dengan Fikri. Membantu suami melancarkan gerak kerja dakwah. Nusaibah juga berjaga-jaga takut dirinya pula yang menjadi pembantut atau penghalang dakwah suaminya.
"Abang, saya nak tanya boleh?" sapa Nusaibah dalam kereta sewaktu dalam perjalanan ke sebuah program dakwah.
"Ya sayang?" jawab Fikri sambil memandu.
"Abang tak pernah pun bawa saya jumpa isteri pertama abang," luah Nusaibah yang sangat teringin berjumpa dengan madunya.
"Dah sampai sana nanti, kita akan jumpa," Fikri menoleh sedikit ke arah Nusaibah, sambil tersenyum.
"Yeke? Dia datang program tu rupanya," jawab Nusaibah riang.
Hatinya berdebar ingin berjumpa madunya yang banyak membantu Fikri dalam gerak kerja dakwah. Di sudut kecil Nusaibah, dia merendah diri kerana usahanya membantu dakwah suaminya hanya sedikit berbanding dengan isteri pertama Fikri yang banyak membantu selama ini. Tidak hairanlah Fikri aktif dalam dakwah sebelum ini.
"Kita dah sampai," Fikri membuka pintu keretanya sambil memegang beg berisi fail ditangannya. Fikri berdiri, mengadap ke arah sebuah khemah di hadapan masjid, lalu menoleh ke arah Nusaibah yang berdiri di sebelah kiri kereta.
"Itu isteri pertama abang," Fikri menuding jari ke arah khemah tersebut.
"Mana bang?" Nusaibah mengecilkan matanya, fokusnya mencari arah jari Fikri. "Tak nampak pun," Nusaibah meninggikan sedikit hadapan kakinya.
"Siapa nama isteri pertama abang?"Nusaibah sangat berdebar.
Fikri tersenyum lebar, memandang Nusaibah penuh tenang.
"PERJUANGAN" jawab Fikri.
*** "Katakanlah (Wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." [QS al-Taubah 9:24]
Dipetik dari blogspot http://promat8.blogspot.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)