.:: Kata-kata Hikmah ::.

Showing posts with label .:: Santapan rohani ::.. Show all posts
Showing posts with label .:: Santapan rohani ::.. Show all posts

Friday, November 30, 2007

.:: Solat Tiang Agama ::.

Solat ialah tiang agama. Bayangkan sebuah rumah yang dibina tanpa tiang. Mampukah rumah tersebut dapat berdiri kukuh??? Begitulah pegangan hidup kita ini. Allah S.W.T telah mewajibkan solat sebanyak 5 waktu kepada setiap umat Islam. Pada zaman kini, solat semakin diabaikan. Bukan sahaja dikalangan remaja, bahkan juga dikalangan orang dewasa. Pelbagai alasan diberikan semata-mata untuk meninggalkan tuntutan ini. Bermacam-macam alasan yang diberikan seperti tak ada tempat bersih, pakaian kotor dan sebagainya. Ini sepatutnya tidak menjadi satu masalah kerana solat boleh ditunaikan di mana-mana kecuali di kuburan dan di tempat mandian. Hal ini sepertimana yang disabda oleh Rasulullah S.A.W. yg bermaksud:

"Semua tempat adalah masjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian."
[Hadith diriwayatkan oleh Imam Ahmad]

Kita sendiri dapat melihat begitu ramai manusia yang sanggup beratur dari awal petang semata-mata untuk menghadiri konsert yang akan bermula pada pukul 10 malam. Namun berapa ramaikah yang sanggup untuk pergi ke tempat solat seawal waktu itu semata-mata untuk menunaikan tuntutan penciptaan mereka sebagai hamba Allah. Bukankah Allah S.W.T telah berfirman di dalam Surah Adz-Zariyyat ayat 56 yang bermaksud

"tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk berubudiah kepadaku"

Oleh itu sedarlah wahai umat Islam semua bahawa di mana sahaja kita berada, solat wajiblah ditnaikan. Elakkanlah daripada memberi pelbagai alasan yang tidak munasabah. Sesungguhnya Islam bukanlah satu cara hidup yang membebankan tetapi Islam itu begitu mudah sekali.

Saturday, October 6, 2007

.:: Renungan Di Akhir Ramadhan ::.

Kesyukuran dan kebahagiaan selalu terpancar pada diri setiap muslim ketika menjalani hari-hari di bulan Ramadhan dengan berbagai aktivitas dan ibadah. Segenap kesyukuran kehadirat Illahi Rabbi dikarenakan Allah SWT menganugerahi satu bulan suci yang sepuluh hari pertamanya berisikan Rahmat, sepuluh hari kedua mengandung magfi (keampunan) dan sepuluh hari terakhir merupakan pembebasan dari api neraka. Curahan kebahagiaan seorang muslim disebabkan Allah selalu membukakan pintu ampunan bagi setiap hamba-Nya yang bertaubat, Allah kabulkan permohonan hamba-Nya yang meminta dengan penuh harap, Allah lipat gandakan nilai amal kebajikan dan Allah tatap hamba-Nya dengan Rahman dan Rahim-Nya. Rasullullah SAW bersabda:

Andaikan Umatku tahu akan rahasia keistimewaan bulan Ramadhan yang dikabulkan, doa-doa mustajab (dipenuhi), segala dosa diampuni dan surga merindukan mereka' Kini Ramadhan memasuki hari-hari akhirnya. Perlahan tapi pasti, bulan yang mulia ini akan berpisah dengan kita. Ada keharuan, kesedihan dan pengharapan di penghujung bulan yang penuh berkah ini. Haru dan sedih dikarenakan kita akan berpisah dengan penghulu segala bulan. Harapan dihati kiranya Allah mengampuni salah dan dosa, menerima amal kebajikan serta memberikan kita kesempatan untuk bertemu diramadhan tahun yang akan datang dengan keadaan yang lebih baik dari tahun ini. Dalam satu Hadits Qudsi Allah berfirman :
'Segala amal perbuatan manusia adalah hak miliknya, kecuali puasa, sebab puasa adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.'

Ramadhan mendidik kita untuk peduli dengan sesama, kepedulian inilah yang semakin hari kita rasakan semakin menipis. Secara kasat mata banyak orang hidup hanya untuk dirinya dan kepentingannya tanpa menghiraukan orang lain. Kepedulian baru lahir tatkala dia mengharapkan sesuatu dari orang lain. Kepedulian 'mendadak' muncul karena ingin mengangkat citra dirinya (image) dihadapan orang. Padahal Rasullullah SAW mengajarkan kita untuk senantiasa bermanfaat bagi orang banyak, sebagaimana sabda Beliau: 'Sebaik-baik manusia adalah, manusia yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain' Sudah saatnya kita bermuhasabah (Introspeksi diri) kita yang hidup berkecukupan atau hidup dalam kemewahan terkadang lupa dengan orang-orang yang kurang beruntung dalam hidupnya, hidup dalam kekurangan, hidup dalam kemiskinan dan hidup dalam ketidak berdayaan. Bulan Ramadhan yang hadir sebagai madrasyah memperbaiki keimanan, keikhlasan dan memahami sesama mestinya membawa perubahan ketika ramadhan berakhir. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mendidik kita untuk selalu peka terhadap kesusahan, kesedihan dan ketidakberdayaan orang lain. Bulan Ramadhan sesungguhnya mengajarkan dan menyadarkan kita untuk selalu merasakan bagaimana penderitaan sesama yang kurang berkecukupan.

Allah selalu mengingatkan betapa pentingnya membelanjakan harta kita melalui kewajiban berzakat, karena pembelanjaan kita yang tulus dan ikhlas di jalan Allah hanya dikarenakan menolong sesama yang tidak mampu akan dibalas Allah dengan nilai kebaikan yang berlipat ganda, sebagaimana Firman Allah SWT: 'Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Allah, adalah bagaikan sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh butir, setiap butirnya mengandung seratus biji, Allah melipat gandakan pahala siapa yang Dia kehendaki dan Allah sangat luas karunia-Nya lagi mengetahui.' (QS: Albaqarah, Ayat 261 ). Tanpa menunaikan zakat seseorang tidak akan masuk dalam himpunan kaum-Mu'minin yang telah dijanjikan kemenangan oleh Allah, dijamin Al-Firdaus dan diberikan petunjuk dan kabar gembira, Allah berfirman 'Sesungguhnya berbahagialah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna dan orang-orang yang menunaikan zakat.'(QS, Al-Mu'minun: 1-4)

Di bulan Ramadhan ini, adalah bulan menumbuhkan sifat kedermawanan, melalui zakat kita akan peduli sesamanya dan mestinya kewajiban zakat ini akan terus dilaksanakan oleh kaum muslimin bukan karena temporer, meskipun frekuensi dan volume zakat di bulan ramadhan sangat meningkat cukup tinggi dengan kewajiban zakat Fitrah. Zakat sebenarnya memaknai kita untuk berbagi dan peduli sesama, Allah SWT berfirman: 'Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahanya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang bertaqwa' (QS, Al-Baqarah: 177).

Bulan Ramadhan menempa kita untuk selalu membelanjakan harta-harta kita di jalan Allah melalui Zakat yang telah diajarkan, tanpa zakat tidak dapat membedakan dirinya dari kaum munafiqin yang disifati Al-Qur'an dengan firman Allah SWT: 'Mereka tidak menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan' ( QS: Ataubah: 54). Sia-sialah bentuk pembelanjaan di jalan Allah tanpa disertai dengan keiklasan yang tulus. Akhir Ramadhan ini merupakan momen untuk berzakat, yakni kewajiban berzakat fitrah disamping itu berinfaq dan bersedekah dengan ikhlas karena Allah, hanya satu tujuan untuk menolong sesama yang kurang beruntung, yakni orang fakir dan miskin serta anak-anak yatim/yatim piatu. Kita berharap semoga semangat ini akan terus berlanjut setelah ramadhan meninggalkan kita dan memasuki hari-hari biasa. Seandainya hal ini terjadi maka kita tidak akan menemui lagi kemiskinan dan kesedihan melanda umat Islam. Dengan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh dan degan berbagai ibadah di dalamnya termasuk kewajiban berzakat fitrah, memperbanyak infaq dan sedekah kiranya keselamatan, limpahan rahmat Allah dan magfirah-Nya kita dapatkan dengan harapan mampu meningkatkan kualitas iman sehingga akan didapatkan kesudahan perbaikan hidup yang diberikan Allah di dunia dan di Akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.

Wednesday, September 12, 2007

.:: Menaut Ramadhan ::.


Sinar mentari ceria gemilang tika itu,
Bunga mekar mengembang mewarnai alam,
Burung berkicau mencicik riang,
Bayu meniup nyaman membelai jasad,
Ramadhan Kareem tiba lagi!

Nafsu,
dikau diterjah mati,
Sabar,
kamu pula sangat diuji,
Iman,
engkau dijulung tinggi,
Takwa,
kau disorak dirai,
Ruh,
engkau pula kan dipuji

Hai Teman,
Mari rai sepenuh hati!

Oh, Allah, Tabahkan hati ini, tuk melalui bulanMu yang Mulia ini, agar kami, hambaMu yang leman ini, dapat meraih ganjaranMu yang kekal abadi, agar dapat kami menuju ke syurga firdausi, Perkenankanlah doa kami, Ya rabbi, Ya Ilahi!

Tuesday, September 11, 2007

.:: Kehidupan Dalam Iman ::.

Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara ialah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan dan mereka akan selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kesedihan, kemurkaan, dan kehinaan.

" Dan sesiapa yang berpaling ingkar dari ingatan dan petunjukKu maka sesungguhnya baginya adlh hidup yang sempit."

Tidak ada sesuatu yg dapat membahagiakan jiwanya melainkan keimanan yang benar kpd Allah SWT, Tuhan alam semesta. Pendek kata hidup akan hambar tanpa iman. Menurut pelbagai golongan pembangkang Allah yg sama sekali tidak beriman, cara terbaik utk menenangkan jiwa adlh dengan membunuh diri. Menurut mereka, dgn bunuh diri org akan dijauhkan dari segala tekanan, kegelapan dan bencana dalam hidupnya. Alangkah malangnya hidup yang miskin iman. Dan betapa pedihnya seksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang melencong dari bimbingan Allah di akhirat nanti.


" Dan Kami palingkan hati mereka dan pandangan mereka sebagaimana mereka telah tidak mahu beriman kpd ayat-ayat Kami ketika datang kpd mereka pada awal mulanya, dan Kami biarkan mereka teraba-raba di dlm kesesatannya dengan bingung."


Kini sudah tiba masanya dunia menerima dgn tulus ikhlas dan beriman dgn sesungguhnya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Bagaimanapun, pengalaman dan ujian sepanjang sejarah hidup di dunia ini dari abad berabad sudah membuktikan banyak hal, menyedarkan akal bahawa berhala-berhala itu tahyul belaka, kekafiran itu punca malapetaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya dan Allah betul-betul Penguasa di muka bumi dan langit.

Seberapa besar iman anda maka setakat itulah pula kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian, dan ketenangan jiwa anda. Tujuan hidup yg baik (hayatun thayyibah) ialah ketenangan jiwa mereka disebabkan janji baik Tuhan mereka, keteguhan hati mereka dlm mencintai Zat yg menjadikan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dlm menerima dan mengharungi ketentuan Ilahi, dan keikhlasan mereka dlm menerima takdir. Dan itu semua adlh kerana mereka betul-betul yakin dan ikhlas menerima bahawa Allah sebagai Tuhan mereka, Islam sebagai cara hidup mereka dan Muhammad itu pesuruh Allah SWT.

Tuesday, September 4, 2007

.:: Menyambut Kedatangan Ramadhan ::.


Alhamdulillah, beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, bulan yang amat suci dan mulia. Mari kita sambut datangnya bulan suci ini dengan suka cita dan gembira. Kita panjatkan rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya di mana kita telah di beri panjang umur sehingga bisa memasuki bulan Ramadhan ini dengan tenang. Ini adalah karunia yang amat besar. Sebab, hidup di bulan Ramadhan berarti kita di beri kesempatan beribadah yang pahalanya berlipat ganda, tidak seperti pada bulan-bulan lainnya.

“Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar supaya semua tahun itu menjadi bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya semua kebaikan berkumpul di bulan Ramadhan, ketaatan di terima (oleh Allah), semua do’a di kabulkan, semua dosa di ampuni dan surga rindu kepada mereka.” ( Hadits Rasulullah, Dari Ibnu Abbas. )

“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila telah masuk sepuluh malam (yang terakhir dari bulan Ramadhan), beliau hidupkan malam itu, membangunkan keluarganya dan mempererat sarungnya (yaitu tidak mengumpuli isteri-isterinya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang wajib kita lakukan di bulan Ramadhan adalah Berpuasa selama satu bulan penuh. Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam, yaitu merupakan rukun yang ke Empat. Jadi bagi setiap orang Islam yang sudah mukallaf tidak boleh meninggalkan puasa kecuali jika ada halangan yang di benarkan oleh syara. Meskipun begitu dia yang berhalangan berpuasa masih tetap di wajibkan membayar puasa yang di tinggalkan itu pada hari-hari lain di luar bulan Ramadhan.

“Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa)sebanyak hari yang di tinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (QS. Al-Baqarah : 183-184)

“Barangsiapa merasa bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk ke dalam neraka.” (Hadits Rasulullah s.a.w.)
wallahu ‘alam bis shawab_ _

Tuesday, August 21, 2007

.:: 10 Jenis Solat Tidak Diterima ::.

RASULULLAH bersabda bermaksud: “Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat, dan barang siapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.”

Rasulullah bersabda: “10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah, antaranya:



Orang lelaki solat sendirian tanpa membaca sesuatu.

Orang lelaki mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

Orang lelaki menjadi imam, padahal orang menjadi makmum membencinya.

Orang lelaki melarikan diri.

Orang lelaki minum arak tanpa mahu meninggalkannya (taubat).

Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.

Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.

Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.

Orang suka makan riba.

Orang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.



Sabda Rasulullah bermaksud: “Barang siapa solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah dan jauh dari Allah.”

Hassan berkata: “Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal buruk.”

Maksud hadis Rasulullah “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.” Kita disarankan supaya mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun ketika azan berkumandang.

Saturday, August 18, 2007

.:: Deraian Air Mata Seorang Khalifah ::.

"Ummah telah memecatmu",
Esat Paşa membuah kata...

1909 menjadi saksi,
Duka Lara ditempuh khalifah,
Ummah retak seribu,
Tiada derai air mata yang dapat membaikinya...

Mendung suram melitupi alam,
Sang suria tiadalah lagi cerianya,
Sinar bulan malaplah sudah,
Bintang di langit lari menyembunyikan diri,
Serinya alam hilanglah ia...

Deruan kereta api meninggalkan Istanbul,
Meluncur laju dari Stesyen Keretapi Sirkeci.
Membawa bersamanya baginda Khalifah,
Daulah meratap kepergian baginda,
Istana Çarağan sepi dari penghuninya...

90 tahun sudah berlalu,
Ummah masih belum bersatu,
Bilakah detik itu akan tiba?

Namun sebelum itu,
Perlu diriku tanya,
"Apa yang diri ini sudah usahakan,
Untuk meyatukan semula Ummah?"
Rugilah kalau Ummah bersatu,
Daulah terbina,
Namun diri tak terlibat pun...

Monday, August 13, 2007

.:: Kasih Ibu ::.

Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera mengesatkan tangan di apron menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya. Kos upah membantu ibu:

1) Tolong pergi kedai : RM4.00
2) Tolong jaga adik : RM4.00
3) Tolong buang sampah : RM1.00
4) Tolong kemas bilik : RM2.00
5) Tolong siram bunga : RM3.00
6) Tolong sapu sampah : RM3.00
Jumlah : RM17.00

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu berlegar-legar si mindanya. Si ibu mencapai sebatang pen dan menulis

1) Kos mengandungkanmu selama 9 bulan - PERCUMA
2) Kos berjaga malam kerana menjagamu - PERCUMA
3) Kos air mata yang menitis keranamu - PERCUMA
4) Kos kerunsingan kerana bimbangkanmu - PERCUMA
5) Kos menyediakan makan minum, pakaian, dan keperluanmu -PERCUMA
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - PERCUMA

Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh si ibu. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata,"Saya Sayangkan Ibu". Kemudian si anak mengambil pen dan menulis 'Telah Dibayar' pada mukasurat yang sama ditulisnya.

Friday, August 3, 2007

.:: Hakikat Kehidupan ::.

Saban hari kita melihat masyarakat begitu sibuk dengan kehidupan mereka, bahkan mungkin termasuk kita. Kerja, belajar, mesyuarat dan lain-lain lagi. Hari-hari yang dilalui terasa padat. Kehidupnnya begitu sibuk, namun pernahkah kita terfikir sibuk kita itu mendapat nilai di sisi ALLAH atau hanya sekadar perjalanan hidup seperti manusia-manusia biasa?
Bahkan ada yang cuba menyibukkan perkara dunianya dengan perkara-perkara yang lansung tidak berfaedah. Pendek kata, tidak menyumbang pada Islam langsung— rempit, mencuri, pergaulan bebas, warnakan rambut, berlagak samseng, dan lain-lain. Lalu dunia menjadi pincang.
Sahabat yang dikasihi, Maka apakah ini hakikat kehidupan yang sebenarnya ? Atau selama ini kita hanya hidup dalam kepura-puraan ? Berpura-pura bahagia sedangkan kita sedang menyeksa diri sendiri untuk bertemu ALLAH S.W.T. Maka untuk mengetahui samada kita benar-benar hidup di bumi ini atau tidak, marilah kita memahami firman ALLAH S.W.T. tentang matlamat dan tujuan ALLAH menciptakan kita di alam ini.


“ Maka apakah kamu mengira bahawa kami menciptakan kamu untuk bermain-main (sahaja) dan bahawa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami, maka maha suci ALLAH raja yang sebenarnya, tiada tuhan selain dia, tuhan yang memiliki arasy yang agung “
( Al-Mukminun : 115 - 116 )



Dan


“ Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada-KU “
( Az-Zariyat : 56 )


Jelaslah dari firman ALLAH tersebut kita diciptakan atau matlamat penghidupan kita hanyalah untuk mengabdikan diri kepada ALLAH S.W.T. , bukan untuk bermain-main dengan api cinta dunia ini. Dan sesungguhnya konsep ibadat itu tersangatlah luas. Apa-apa yang kita lakukan selagi tidak melanggar syara’ dan kerana ALLAH S.W.T., maka itulah IBADAT.

Bukan sahaja rukun Islam, tetapi makan, mandi, berbual, bersukan dan perkara-perkara lain dalam kehidupan kita. Begitu indahnya ISLAM !!!
Maka apa yang dapat ana simpulkan, untuk mencapai hakikat kehidupan sebenar,kehidupan ini perlu diisi semaksima mungkin dengan ibadat dan disamping menghindarkan kejahilan dan kebathilan. Kembalikanlah segala urusan, masa kita tidak kira dalam keadaan susah, senang, kaya atau miskin hanyalah pada ALLAH. Jadikanlah ALLAH sebagai tempat kita bergantung harap, dan rasailah bahawa kita akan kembali kepada-NYA. Nescaya keika itu kita akan merasai hakikat kehidupan yang sebenar, kehidupan yang bahagia. Bahagia bersama Islam...

Saturday, June 30, 2007

.:: Menanti Di Barzakh ::.

Hayatilah lagu ini...
Ia menceritakan tentang perjalanan hidup manusia daripada alam rahiim ke padang mahsyar. Untuk download (format mp3), copy link di bawah :

http://averroes07.multiply.com/music



Menanti Di Barzakh
Album : Halawatul Iman
Munsyid : Far East
http://liriknasyid.com

Ku Merintih, Aku Menangis,
Ku Meratap, Aku Mengharap,
Ku Meminta Dihidupkan Semula,
Agar Dapat Kembali Ke Dunia Nyata,

Perjalanan Rohku,
Melengkapi Sebuah Kembara,
Singgah Di Rahim Bonda,
Sebelum Menjejak Ke Dunia,
Menanti Di Barzakh,
Sebelum Berangkat Ke Mahsyar,
Diperhitung Amalan,
Penentu Syurga Atau Sebaliknya,

Tanah Yang Basah Berwarna Merah,
Semerah Mawar Dan Juga Rindu,
7 Langkah Pun Baru Berlalu,
Seusai Talkin Penanda Syahdu,
Tenang Dan Damai Di Pusaraku,
Nisan Batu Menjadi Tugu,
Namun Tak Siapa Pun Tahu Resah Penantianku,

Terbangkitnya Aku Dari Sebuah Kematian,
Seakan Ku Dengari,
Tangis Mereka Yang Ku Tinggalkan,
Kehidupan Disini Bukan Suatu Khayalan x2
Tetapi Ia Sebenar Kejadian x2

Kembali Oh Kembali,
Kembalilah Kedalam Diri,
Sendirian Sendiri,
Sendiri Bertemankan Sepi,
Hanya Kain Putih Yang Membaluti Tubuhku,
Terbujur Dan Kaku,
Jasad Didalam Keranda Kayu,

Ajal Yang Datang Dimuka Pintu ,
Tiada Siapa Yang Memberi Tahu,
Tiada Siapa Pun Dapat Hindari,
Tiada Siapa Yang Terkecuali,
Lemah Jemari Nafas Terhenti,
Tidak Tergambar Sakitnya Mati,
Cukup sekali Jasadku Untukku Mengulangi,

Jantung Berdenyut Kencang,
Menantikan Malaikat Datang,
Mengigil Ketakutan Gelap Pekat Dipandangan,
Selama Ini Diceritakan x2
Kini Aku Merasakan x2
Dialam Barzakh Jasad Dikebumikan x2

Ku Merintih, Aku Menangis,
Ku Meratap, Aku Mengharap,
Ku Meminta Dihidupkan Semula,
Agar Dapat Kembali Ke Dunia Nyata,

Friday, May 25, 2007

.:: 10 Wasiat Al-Imam Hassan Al-Banna ::.

1)Wahai kawanku, Segeralah tunaikan solat di awal waktu. Dikala mendengar azan Usahakanlah semampu terdaya. Ini membuktikan kesungguhan anda. Di situ ada sumber kejayaan Di situ ada sumber pertolongan Di situ ada sumber taufiq Perhatikanlah banyak perintah ayat al-Quran. ... dimulakan dengan menyebut solat di awalnya Perhatikanlah Tuhan mensyariatkan solat... Juga di medan perang. Walaupun... Di saat genting dan cemas.

2)Wahai kawanku, Bacalah al-Quran dan cuba memerhati mesejnya Selalulah berzikir dan cari ilmu walaupun sedikit Kurangilah dengan masa yang tidak bertujuan Sesungguhnya al-Quran adalah sumber asli lautan ilmu Sumber hidayah kepada anda dan saya Bacalah al-Quran, kelak ia memberi syafaat. Sentiasalah membaca, menghafal dan... Cuba hayati mesej arahannya. Selalu berzikir, berzikir dan terus berzikir!!! Di sini ada ketenteraman Di sini ada kedamaian Di sini ada kesalaman Jadilah hamba yang sejahtera.

3)Wahai kawanku, Dorongkanlah diri untuk menguasai Bahasa al-Quran Mulakan dulu walaupun sepatah perkataan Sebenarnya anda telah lama bermula Iaitu sejak anda solat setiap hari Sebut dulu walaupun tak faham. Antara mala petaka pertama menimpa umat kita... Ialah kecuaian menguasai bahasa agamanya. Juga mengutamakan bahasa pasar, Ayuh !!! Apa tunggu lagi?????? Bukalah ruang walaupun seminit !!!

4)Wahai kawanku, Usahlah bertarung idea tanpa adabnya!!! Berdebatlah jika kiranya berbuahkan kebaikan Awasilah pertengkaran Kerana di sana ada unsur lain membisikkan? Syaitannnn namanya !!!

5)Wahai kawanku, Senyumlah selalu tapi bersederhanalah dalam ketawa !!! Rasulullah s. a. w adalah yang paling banyak senyum Beliau ketawa kena pada tempatnya Tapi berpada-pada sahaja, wahai kawan ! Plato juga berharap agar pementasan hiburan... Yang tidak bermutu terlalu banyak ketawa bodoh Hanyalah disaksikan oleh golongan abdi Dan orang upahan asing! Begitu juga Aristotle berpendapat Supaya golongan belia ditegah daripada menyaksikan hiburan-hiburan yang membolehkan perbuatan ketawa berlebih-lebihan. supaya tidak menular. Keburukan dalam diri!!!

6)Wahai kawanku, Seriuslah selalu dan berguraulah berpatutan Tanpa serius, hilanglah kesungguhan !!! Tanpa bergurau, tawarlah kehidupan Kata seorang penyair : Berikan kerehatan pada jiwamu Yang sibuk dengan berfikir Ubati dengan bergurau Tapi, Kalau mengubatinya dengan bergurau Mestilah dalam batas Seperti kau masukkan garam ke dalam gulai.

7)Wahai kawanku, Kawallah nada suaramu Setakat yang diperlukan oleh pendengar di depanmu Janganlah jadi seperti orang bodoh. Bahkan menyakit hati orang lain pula!!! Luqman El-Hakim juga mencela orang yang tidak pandai menjaga nada suara pada tempatnya. Itulah katanya suara keldai!!! Surah al-Isra' memberi tip kepada kita... Jangan keraskan suramu dalam solat Tapi jangan pula merendahkannya Carilah jalan tengah di antara keduanya.

8)Wahai kawanku, Usahlah umpat mengumpat Usahlah merendah-rendahkan pertubuhan lain Bercakaplah jika ada unsur kebajikan Ayuh!!! Hindarilah... mengumpat! Tidak sekali mencabuli jemaah-jemaah lain!!! Perkatakanlah kebaikan demi kebajikan bersama. Sukakah anda memakan daging pasti anda suka!! Tapi sukakah anda memakan daging kawan anda yang telah mati?? Sekali-kali tidak!!! Begitulah dosa orang yang mengumpat. Bertaubatlah jika anda mengumpat Tapi mesti minta ampun terhadap orang umpatanmu bersama!!! Boleh mengumpat... apabila ada tujuan syarie.
* untuk menuntut keadilan apabila dizalimi
* untuk menghapuskan kemungkaran
* kerana memberi amaran kepada Muslim tentang kejahatan
* kerana mengisytiharkan kefasikan dan kejahatan.

9)Wahai kawanku, Luaskanlah interaksimu dengan umat manusia Sekalipun mereka tidak diminta berbuat demikian!!! Salam kasih sayang adalah untuk semua Salam kemesraan adalah untuk sejagat. Hulurkanlah, hulurkanlah salam perkenalan...! Lihatlah pensyariatan ibadah haji. Pelbagai bangsa datang berkunjung!!! Pelbagai lapisan datang berkunjung!!! Pelbagai darjat datang berkunjung!!! Sama-sama menjunjung obor suci Tidak mengenali tapi tak sepi.

10)Wahai kawanku, Maksimumkanlah faedah waktu anda dan Tolonglah orang lain supaya manfaatkan masa. Hadkanlah masa penunaiannya. Biasakan hidup berjadual di hadapan. Bijaksanakanlah menggunakan waktu anda! Bersegeralah, kerana... Sabda Nabi s. a. w bermaksud : "Bertindak segeralah melakukan amal..." (Diulang 7 kali..) Sayanglah masa saudaramu!!! Hormatilah waktu mereka!!! Usahlah berbicara meleret-leret... Tanpa haluan dan noktahnya..

Saturday, April 7, 2007

.:: 10 Muwasafat tarbiyah ::.



* Salimul ‘Aqidah
* Qawiyul Jismi
* Sahihul Ibadah
* Matinul Khuluq
* Mutsafaqul Fikri
* Munadzam fi Syu’unihi
* Haritsun ‘ala Waqtihi
* Nafi’un li Ghairihi
* Qadirun ‘ala Kasbi
* Mujahidun Linafsihi

.:: Islam sebagai Ad-Deen ::.



Islam bukan suatu Deen (peraturan hidup) yang wujud secara kebetulan tetapi adalah satu natijah (hasilan) dari satu Tarbiyyah (pendidikan). Hasil dari perancangan, perencanaan, pembentukan yang disususn dengan rapi dan berhati-hati melalui ransangan-ransangan dan bimbingan yang diransangkan, yang bertujuan untuk melahirkan manusia yang Islam dalam pemikirannya, aqidahnya, akhlaqnya dan jiwanya dalam segala perbuatan dan tindakannya.

Dengan demikian segala perbuatan dan tindakan berfungsi sebagai ibadah dan mendapat keredhaan Allah S.W.T. Inilah dia pembentukan peribadi untuk melengkapi persediaan penerima Deen Islam keseluruhannya.

Islam adalah Deen (peraturan hidup) ciptaan Allah S.W.T. dan Allah S.W.T. beryanggungjawab ke atas kepentingan Islam dan pengawasannya juga berada dalam genggaman Allah S.W.T.. Oleh demikian mereka yang mengambil Allah S.W.T. sebagai Ilah dan Rabb tidak mempunyai jalan lain, mesti memikul amanah ini iaitu melahirkan Islam dalam bentuk praktik kehidupan manusia, meliputi apa yang berkaitan dengan kehidupan manusia samaada pemikiran sehinggalah pentadbiran bumi Allah S.W.T. mestilah berjalan sesuai dengan kehendak Allah S.W.T..

Jika amanah ini tidak diambil, tentulah ia bermaksud kita memperkecilkan suatu rahmat Allah S.W.T., Pemilik alam ini.

Dengan demikian pada masa yang sama kita menolak Allah S.W.T. sebagai Ilah. Kedudukan Allah S.W.T. sebagai Ilah itu telahpun berpindah kepada yang lain berkemungkinana hawa nafsu atau bentuk yang lain, hasilan daripada pemikiran atau perasaan yang ada pada kita yang didorong oleh syaitan dengan bantuan dari kuncu-kuncunya.

Ramai orang yang berpuas hati dengan mengaku yang mereka telah menganuti Islam, tetapi suatu persoalan yang kita perlu fikirkan ialah apakah telah memadai pengakuan tersebut sahaja? Jawabnya, bila kita menganut Din Islam adalah tidak cukup dengan pengakuan sahaja tanpa memenuhi tuntutan-tuntutannya.

.:: Ikhlas dalam amalan ::.

Sikap ikhlas melambangkan kesucian sesuatu kebajikan itu samada ianya ada hubungan dengan Allah SWT mahupun sesama manusia tanpa keikhlasan beramal bererti amal yang dilakukan tiada nilainya walaupun seberat timbangan sayap nyamuk sekalipun di sisi Allah SWT. Ini ditegaskan Allah SWT di dalm firmannya yang bermaksud:

" Mereka tidaklah diperintahkan melainkan beribadat kepadaNya dalam keadaan mengikhlaskan agama kepadaNya." ( Al-Bayyinah: 5 )

Mengikhlaskan hati bukan saja terhad kepada beribadat kepada Allah SWT sahaja malahan juga dalam bertaubat kepadaNya. Kita dituntut untuk melakukannya dengan sebenar-bebar ikhlas, jika tidak sia-sialah amalan kita itu.

Justeru, sifat ikhlas merupakan kunci penerimaan amal yang bersih, suci dan tiada apa-apa kepentingan kerananya. Menurut istilah syariat pula, ikhlas merupakan sesuatu ibadat semata-mata untuk mengecapi mardhotilla. Inilah yang menepati niat, maksud atau motivasi pekerjaan yang dilakukan. Dalam hubungan ini, Rasulullah telah menjelaskan kepada kita dalam sabdanya yang bermaksud:

"Sesungguhnya segala amalan itu bergantung kepada niat dan sesungguhnya setiap manusia itu mendapat akan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya itu. barangsiapa yang berhijrah kerana Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu adalah bagi Allah dan RasulNya.Barangsiapa yang berhijrah kerana dunia yang akan diperolehinya atau kerana perempuan yang ingin dikahwininya, maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang dia niatkan." ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim )

Oleh itu wahai pembaca semua, jelaslah bahawa niat itu merupakan penggerak atau penolak keimanan kita untuk melakukan sesuatu amalan. Sebagai seorang Da'ie dan khalifah di muka bumi ini, adakah kita mahu berdakwah secara negatif ataupun secara athifah ? Oleh itu,singkapkanlah kembali hati-hati kita yang kadangkala bertompok ini.

Akhir kata ana mengakhiri madah ini dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 112 yang bermaksud:

"Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan dia berbuat baik, maka baginya ganjaran di sisi tuhannya, tiada ketakutan keatas mereka dan mereka tidak akan berdukacita."

Demikianlah jaminan dan janji Allah SWT yang pasti ditepatiNya terhadap orang-orang yang ikhlas dalam setiap saat hidupnya. Wassalam...

Thursday, March 29, 2007

.:: Masa dari perspektif Islam ::.

.:: Suhaimi, jom pi lepak kat Pacific…cuti-cuti ni nak buat apa lagi…nak study..PMR dah abih… Itulah atara kata-kata kawan setaman saya pada suatu pagi. Maklumlah PMR pun dah habis… bagi kebanyakan muda-mudi, cuti skolah merupakan satu peluang untuk keemasan untuk enjoy terutamanya bagi student-student yang bari habis menduduki peperiksaan. Sepatutnya masa free seperti ini perlu dijadikan satu peluang untuk beribadath di samping melakukan aktiviti-aktiviti lain yang berfaedah.

.:: Kita sepatutnya sedar betapa pentingnya masa sehinggakan Allah S.W.T. bersumpah demi masa dalam firmanNya dalam Surah Al-Asr ayat 1 hingga 5 yang bermaksud :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian. Melainkan orang-orang yang beriman dan beramal soleh yang berpesan-pesan dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran ” ( Al-Asr : ayat 1-5 )

Dalam ayat diatas, Allah S.W.T sudah mengingatkan kita bahawa manusia itu sentiasa berada di dalam kerugian sekiranya mereka tidak tahu untuk mentadbir masa mereka dengan sebaiknya.

.:: Pada masa ini kita dapat lihat di merata-rata tempat terdapat pelbagi ragam manusia yang tidak tahu untuk mentadbir masa dengan sebaiknya. Ramai muda mudi yang kelihatan melepak di tepi jalan sambil mengganggu orang yang lalu-lalang. Ada juga yang menggunakan masa free ini untuk bercakap benda-benda yang tidak berfaedah. Bahkan tak kurang juga yang membuang masa ini dengan bergaduh, memaki hamun, menabur fitnah, berkhayal dan pelbagi lagi. Bukankah Allah telah menjadikan manusia dengan sebaik-baik kejadian untuk mengabdikan diri kepadanya sepertimana yang telah disebut di dalam firmannya yang bermaksud :

“Tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”

( Adz-Zariyyat : ayat 56 )

.:: Apabila ditanya samada nak berjaya ataupun tidak., ramai yang jawab nak namun adakah utuk berjaya, seseorang itu perlu bijak mentadbir masanya ? Ya! Sebenarnya kejayaan mempunyai kaitan yang rapat dengan pengurusan masa. Kita sebagai hamba Allah sepatutnya sedar bahawa Allah dah bagi 24 jam kepada kita semua. Tidak ada yang mendapat lebih daripada 24 jam sehari mahupun kurang daripada tempoh itu. Namun, kenapa masih terdapat manusia yang mendapat kejayaan lebih daripada orang lain? Di samping kurniaan dan rahmat daripada Allah S.W.T., seseorang itu perlulah mempunyai pandangan dan penilaian yang tepat terhadap makna ‘masa’ itu sendiri.

.:: Al-Quran sendiri telah mengajak kita agar mempunyai pandangan ataupun tasawwur yang jelas mengenai hakikat masa. Masa adalah satu tempoh ataupun waktu yang telah dimanahkan oleh Allah S.W.T. kepada semua manusia. Namun, ramai orang tidak tahu untuk menghargai masa? Adakah kerana masa itu adalah satu benda yang tidak boleh dilihat? Mungkinkah kita sudah terdidik untuk memberi respons kepada kepada benda yang boleh dilihat sahaja? Namun itulah hakikat ataupun sunnatullah yang terdapat pada setiap diri manusia.

.:: Manusia yang berjaya di dunia akan mengaitkan masa dengan benda yang boleh dilihat dan boleh memberi keuntungan seperti perniagaan dan kemewahan. Atas dasar itulah terbitnya kata-kata hikmat ‘masa itu emas’. Perkara seperti ini dapat menimbulkan kesedaran kepada manusia untuk menguruskan masa dengan sebaiknya.

.:: Namun lebih baik sekiranya manusia itu dapat mengaitkan masa dengan kewujudan nilai yang ghaib seperti pahal dan dosa, syurga dan neraka dan pelbagai lagi. Orang sebegini akan mendapat akan rasa bahawa masa yang Allah bagi kepadnya adalah satu modal percuma dan dia perlu menjadi seorang pelabur dan pentadbir masa yang abik dan berjaya bukan sahaja di dunia bahkan juga dia akhirat.

.:: Sekiranya manusia melakukan misi ini dengan baik, Allah akan bayar pelaburannya itu dengan syurga dan segala jenis kenikmatan yang ada di akhirat. Rasulullah adalah contoh seorang pengurus masa yang paling berjaya. Baginda membahgikan masa dengan berkesan : masa berniaga, masa bermuamalah dengan orang ramai, masa berdakwah, masa berjihad, masa bersama keluarga serta isteri-isterinya dan baginda juga turut mempunyai masa yang secukupnya untuk berkomunikasi dengan Allah secar khusus.

.:: Marilah kita uruskan masa hidup kita sebijak Rasulullah S.A.W. Malah di masa tidur pun, masa lenanya itu mempunyai nilai dan ganjaran disisi Allah S.W.T.. Tidak seperti kita yang sukar untuk merasai bahawa waktu tidur kita itu masih ada hubungan dengan Allah (HDA) yang juga merupakan salah satu kod untuk mendapat keredhaanya dan adakah masa lena kita itu dikira disisi Allah S.W.T. Sedangkan Rasulullah juga diberi tempoh masa yang sama seperti orang lain iaitu selama 24 jam sehari.

.:: Lihatlah jam yang terpampang di dinding rumah kita, di tangan kita bahkan di komputer kita sebagi satu peringatan bahawa ia juga akan merekodkan ‘detik akhir’ jawatan kita sebagai seorang pentadbir atau pengurus masa dan juga ‘detik akhir’ hidup kita sebagai hambaNya yang hina dan banyak melakukan dosa.

.:: Hakikat da'wah dan tarbiyyah ::.

Dakwah adalah semulia-mulia amalan. Dakwah mensucikan diri kita sebagai seorang muslim / muslimah, mukmin / mukminah. Jadikanlah diri kita sebagai seorang da’ie tidak kiralah di bumi mana kita berpijak sekalipun. Berdakwahlah dengan hati yang dipenuhi rasa ‘athifah ( lemah lembut ) terhadap manusia. Dunia ini memerlukan seorang ‘athifah ( rujuk surah Al-Imran : 159 ) dan mungkinkah seorang da’ie mengajak orang lain tanpa menyentuh isi ‘athifah ini? Da’ie yang ikhlas yang mana merasai ‘athifah tidak akan mengalami kesulitan untuk memasukkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain.

Inilah sebuah jalan yang sukar, pedih dan memenatkan. Namun ianya jalan yang selamat, indah dan luas yang pasti menggoda orang-orang yang beriman untuk menempuhnya. Di sepanjang jalan ini terdapat pelbagai ranjau dan duri dan kita harus peka dengannya. Barangsiapa yang menempuhi medan ini dengan syarat-syarat, pasti akan sampai ke destinasinya dengan aman, tenang dan menyenangkan.

Manhaj ini menetapkan kita berada bersama di mana-mana sahaja. Ikatan yang terjalin antara kita perlulah utuh. Kita sama-sama mempunyai perasaan yang halus dan jujur. Jiwa persaudaraan seorang da’ie perlulah benar-benar utuh dan hangat. Inilah bunga-bunga persaudaraan yang indah dan cukup umggul. Bunga ini tersemat dan tertanam kukuh dalam sanubari kita.

Maka, bangkitlah wahai saudaraku dalam memeperjuangkannya. Sesungguhnya Allah S.W.T. membeli orang-orang yang beriman dengan harta, masa, dan nyawa dalam memperjuangkan deenNya. Bunga itu benar-benar tertanam untukmu. Dedaunnya yang menghijau sentiasa memberi jaln kepadamu dan disirami dengan keimanan dan ketaqwaan. Bunga itu menenangkan dan memperingatkanmu bagiman menempuh jalan itu dengan baik, tersusun dan penuh kesabaran. Begitulah indahnya UKHWAH FILLAH…Wassalam…

.:: Detik berharga yang dilalui ::. by Abu Munzir

Setiap pagi matahari terbit sebagai tanda lahirnya hari yang baru untuk kita semua. Semua kita melalui fenomena pergantian malam dan siang sejak kita lahir hingga kini, tetapi berapa ramaikah di kalangan kita yang benar-benar memanfaatkan hari-hari dan malam-malam yang silih berganti.

Berapa ramaikah kita yang dapat menyelamatkan diri kita dari kerugian dunia lebih-lebih lagi kerugian di akhirat?

Seseorang itu akan kerugian dalam ertikata kerugian yang sebenar apabila saat berlalu, minit berlalu, jam berlalu sedangkan iman dan amal tidak bertambah. Ma’rifatullah tidak bertambah walaupun usianya bertambah. Ketaatannya tidak meningkat sedangkan masa yang berharga telah dilaluinya.

Wahai putera puteri harapan Islam!

Lihatlah detik-detik masa yang sangat berharga yang telah memintas kehidupan anda. Andakah berjalan proses iman yang membawa kepada pengukuhan ma’rifatullah. meningkat ketaatan kita kepada Allah SWT dan adakah mahabatullah telah meningkat. Tahun yang baru telah dilalui hampir sebulan berlalu, detik-detik kehidupan yang berharga telah terlepas begitu sahaja tanpa membawa peningkatan diri kita.

Alangkah meruginya hidup ini apabila ma’rifatullah tidak meningkatkan dengan masa yang dikurniakan Allah SWT kepada kita. Alangkah meruginya hidup ini apabila detik yang berharga tidak menambah ketaatan dan alangkah meruginya apabila detik masa yang berharga tidak meningkatkan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Adakah detik masa yang berharga ini membawa peningkatan keimanan atau kemerosotan. Di sana tiada keadaan yang statik dalam terminologi proses peningkatan diri. Sama ada kita melalui peningkatan atau kita melalui kemerosotan.

Ibn Qayyim al Jauziyah telah menulis: “Sesungguhnya Allah menjadikan hati adalah untuk ma’rifatullah, mentaati-Nya dan mencintai-Nya. Sekiranya ketiga-tiga perkara ini tidak berlaku maka hati itu sebenarnya telah cacat”

Bagaimanakah keadaan hati kita? Di antara hakikat lalai yang paling membinasakan adalah lalai untuk meneliti hati sehingga hati yang segar bertukar menjadi gersang kemudian berpenyakit sehingga membawa kematian hati. Seandainya hati kita mati lantaran kelalaian kita, Ibn Qayyim mengatakan “Anda adalah seorang pembunuh!” Anda telah membunuh hati anda sendiri.

Kematian hati sememangnya biasanya tidak dirasai oleh pemilik hati kecuali mereka yang masih dikehendaki kebaikan oleh Allah SWT. Kematian hati tidak memberhentikan penambahan usia. Kehidupan zahir tetap berjalan cuma hati kita telah berhenti berfungsi. Inilah kematian sebelum ajalnya.

Wahai putera puteri harapan Islam!

Takutilah hari di mana anda kematian hati tetapi anda tidak menyedarinya. Jasad anda hanya ‘kubur’ yang menyimpan ‘hati yang telah mati itu’.

Takutilah pada hari anda mengangkat tangan anda tetapi Allah SWT tidak mahu memandang anda lagi!

Marilah kita teliti detik masa yang berharga yang kita lalui. Marilah kita teliti keadaan hati kita. Janganlah biarkan detik yang berharga ini berlalu tanpa membawa keberuntungan kepada kita.

by Abu Munzir
http://tinta-tarbawi.com/

.:: Memulakan Perjalanan Baru ::.by Abu Munzir

Salah perkara yang penting untuk diberikan perhatian yang serius adalah berhubungan dengan penyucian diri dan pembentukan diri menjadi mukmin. Kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat bergantung kepada usaha kita dalam menyucikan hati kita dan membentuk diri kita ke arah menjadi mukmin yang sebenar.

Allah SWT di dalam Al Qur’an, Surah asy Syams (91:9):
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu)”

Syakhsiyyah bukan sahaja jasad fizikal kita sahaja tetapi juga minda dan hati, perasaan dan sikap, akhlak dan perangai kita. Pembentukan dan pembangunan semua unsur ini akan membawa kita kepada kejayaan dunia dan akhirat.

Sekiranya seseorang berhajat kepada natijah keimanan yang mantap dan kebahagiaan yang hakiki, dia juga semesti berhajat kepada proses yang membawanya kepada natijah tersebut.

Sekiranya hajat kita untuk mardhatillah adalah sangat kuat maka sewajarnya hajat kita melalui proses yang membawa kita kepada mardhatillah ini semestinya sangat kuat juga. Kita tidak punya pilihan lain melalui proses ini dengan penuh kesungguhan dan kesabaran.

Bagi seorang mukmin, tujuan atau matlamat hidup yang teragung sekali adalah memperolehi mardhatillah atau keredhaan Allah SWT.

“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (Surah al Ankabut (29): 64)

Kita perlu memahami dan menyedari bahawa harga keredhaan Allah SWT itu mahal dan hanya diperolehi oleh mereka yang sanggup membayar harganya. Ini dijelaskan oleh Allah SWT di dalam Surah Al Baqarah, ayat: 207:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keredhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”

kebalikan mendapat syurga adalah dimasukkan ke dalam Jahannam dan menerima azab Allah di dalamnya. Oleh kerana itu kita juga meneliti punya dan kelayakan apa yang menyebabkan seseorang itu masuk neraka.

Jawapannya adalah neraka itu adalah tempat mereka yang mengabaikan hak-hak Allah atas diri mereka dan mengabaika pemprosesan hatinya untuk benar-benar beriman dan berkemampuan untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan iman dalam hidupnya di dunia.

Cita-cita yang paling tinggi perlu ada dalam jiwa adalah untuk mendapat syurga Allah dan seluruh potensi diri mestilah difokuskan untuk memenuhi kelayakan mendapat redha Allah SWT melalui proses tarbiyyah Islamiyyah yang berasaskan tarbiyyah keimanan.

Pemilihan akhirat dan syurga sebagai matlamat akhir yang sangat dihajati mestilah dibuat secara faham dan sedar dan menuntut kita untuk memutuskan hubungan hati kita dengan gaya hidup kita yang lalu. Kita perlu melakukan hijrah hati.

Kita perlu membuat keputusan sama ada kita benar-benar mahu menjadikan syurga sebagai matlamat hidup kita. Memilih matlamat ini bererti memilih cara hidup yang baru, cara hidup yang berteraskan ketaatan kepada Allah SWT dalam semua hal.

Oleh itu wahai putera-puteri yang dikasihi! Mulakanlah hijrah hati anda dengan mengambil wudhu’ dengan sebaik-baiknya dan tunaikanlah dua rakaat solat taubat. Setelah itu fikir-fikirkan bersungguh-sungguh detik-detik menggerunkan yang mendatang. Ingatlah azab neraka yang anda telah berazam untuk mengelakkannya. Ingatlah ketika malaikal maut datang kepada anda dan memberitahu bahawa “Masa anda telah tamat dan tibalah masa untuk nyawa berpisah dengan jasadmu”. Ingatlah azab neraka dengan buah zaqqum sebagai makanan yang memenuhi perut dan diberi air panas sebagai minuman. Itulah yang difirmankan Allah di dalam Surah Al Waqi’ah.
Berdoalah anda dengan sebenar-benar doa:
“Ya Allah! Hamba-Mu ini memohon keampunan-Mu dan apa jua yang membawa diriku hampir kepada keampunan-Mu, dalam bentuk perkataan mahupun perbuatan!

Ya Allah ! Hamba-Mu ini memohon sudi kiranya Engkau kurniakan kepadaku iman yang tidak akan lenyap; barakah yang tidak akan hilang; dan kenikmatan yang tidak akan pudar dan ku pohon dari-Mu kedudukan tinggi di syurga-Mu”

Kita menyedari bahawa memperbaiki tabiat dan tindak tanduk dalam hidup kita adalah satu proses yang akan kita lalui sepanjang hayat. Walau bagaimanapun hajat atau kehendak kita untuk mencapai hasilan ini mestilah sentiasa semarak dalam jiwa kita. Hajat ini akan menjadi momentum untuk memperolehi tujuan atau matlamat yang tinggi dan suci ini. (insyaAllah)

By Abu Munzir
http://tinta-tarbawi.com/

Saturday, March 17, 2007

.:: Maafkan abi ::.

Jam sudahpun menunjukkan pukul 11.00 malam ketika Mansur duduk merebahkan diri di ruang tamu rumahnya. Dalam fikiran Mansur, tentu zaujah dan anaknya Mira sudah tidur nyenyak.

Tapi kenapa pintu bilik Mira masih terbuka? Mansur terpegun sebentar berdiri di depan pintu bilik Mira. Rupa-rupanya Mira tertidur di meja belajarnya. Di tangan kanannya masih memegang pensil seolah olah baru selesai menulis sesuatu di dalam diarinya dan di sisinya pula ada segelas kopi yang sudah pun sejuk.

Mansur terus mengangkat Mira ke tempat tidurnya. Selepas itu dia mengemas meja belajar Mira yang berselerakkan dengan buku buku. Sebelum Mansur menutup diari Mira, dia ingin melihat apa yang ditulis oleh Mira itu.

Mansur termenung sejenak bercampur sedih selepas membaca diari tersebut kerana apa yang tertulis di dalamnya, semua ceritanya berkisar tentang diri Mansur. Dan yang paling menyentuh hatinya ialah tulisan Mira di tiga lembaran terakhir diari itu.
Di lembaran pertama Mira menulis : "Hari ini Abi tidak jadi menemaniku ke Pesta Buku, mungkin Abi terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku amat faham dengan kesibukanmu Abi."

Tiba-tiba Mansur teringat beberapa minggu yang lalu Mira memang ada mengajaknya ke Pesta Buku tersebut. Dia sendiri telah berjanji dengan Mira yang dia akan mengambil cuti untuk menemani Mira memandangkan sekarang ialah musim cuti sekolah penggal yang pertama.

“Abi, minggu depan ada apa apa program tak?” Mira bertanya sewaktu Mansur baru hendak melangkahkan kaki untuk ke pejabat pada pagi itu.

Mansur tidak menjawab pertanyaan Mira itu sebaliknya bertanya semula kepada anaknya itu, “Ada apa sayang?”

"Kalau Abi tak ada apa-apa, boleh tak Abi temankan Mira ke Pesta Buku minggu depan?" tanya Mira lagi.

"Insya-Allah Mira, kalau tak ada apa apa hal Abi akan ambil cuti tahunan Abi untuk temankan Mira, ok. ” Mansur memberikan jawapan seolah-olah sekadar untuk melegakan hati anaknya itu.

"Terima kasih, Abi," sambut Mira dengan wajah yang sangat gembira sambil mencium pipi Mansur.

Mansur hanya tersenyum melihat tingkah laku anaknya itu yang begitu manja dengannya.

Di lembaran kedua Mira menulis lagi :

"Hari ini sekali lagi Abi tidak jadi menemaniku ke kedai komputer, kerana aku hendak membeli dakwat printer aku yang sudah habis. Banyak projek sekolah aku yang mesti dihabiskan dalam masa beberapa hari ini. Sebenarnya aku sudahpun mengajak Ummi, tapi kan bagus kalau Abi dapat ikut sekali. Tapi..... lagi-lagi Abi sibuk".

Sekali lagi Mansur teringat yang anaknya itu memang pernah mengajaknya pergi ke kedai komputer itu bersama-sama Umminya.

Mansur sudah faham benar dengan kerenah Mira kalau hendakkan sesuatu mesti dia akan bertanya seperti ini, "Abi petang nanti sibuk tak atau Abi ada apa apa program tak petang nanti?"

Kata-kata lembut yang keluar dari mulut anaknya itu membuatkan Mansur tidak dapat memberikan jawapan ‘TIDAK’, walaupun kadang-kadang dia memang benar-benar sibuk.

Di lembaran terakhir Mira menulis : Hari ini dan untuk kesekian kalinya Abi telah mengecewakan aku lagi kerana masih tidak dapat menemaniku ke pasar malam di tempatku .

Pagi tadi aku mengajak Abi ke pasar malam di tempat kami kerana hari ini adalah hari terakhir pasar malam itu. Aku sudahpun berjanji dengan Pak Man, penjual anak patung di pasar malam tersebut, yang aku akan membeli anak patung yang ditawarkan petang tadi sewaktu Pak Man lalu depan rumahku. Aku katakan pada Pak Man yang malam ini aku akan pergi bersama Abi dan Ummi ke pasar malam dan aku akan membeli anak patung itu.

Tapi kerana Abi masih belum balik lagi tentu Pak Man sudah pun menjualnya pada orang lain.

Pak Man, maafkan Mira ye!. Besok pagi pagi Mira akan tunggu Pak Man depan rumah Mira dan minta maaf pada Pak Man kerana Mira tak dapat pergi ke pasar malam semalam.

Kali ini Mira yang akan minta maaf dulu sebab Mira yang berjanji, selalunya Pak Man yang terlebih dulu minta maaf bila Pak Man tengok Mira sudah menunggu di depan rumah menanti suratkhabar yang Mira pesan itu.

Pak Man selalu cakap, "Maafkan Pak Man, Mira. Hari ini Pak Man terlambat,” padahal sebenarnya Pak Man tak lambat pun cuma aku yang terlalu cepat menunggu.

“Pak Man tak mau kecewakan Mira kerana Mira sudah berpesan pada Pak Man yang kalau boleh hantar suratkhabar cepat-cepat sebelum Mira pergi ke sekolah. Cuba kalau betul-betul Pak Man lambat tentu Mira akan kecewa. Pak Man tak mau kecewakan harapan orang kerana memang susah untuk menyembuhkan hati orang yang kecewa kecuali kita minta maaf dengan tulus ikhlas pada orang yang telah kita kecewakan itu.”

Tiba-tiba aku teringatkan Abi. Aku amat sedih sekali kerana selama ini belum pernah sekali pun Abi minta maaf padaku, bila Abi tidak dapat melayan kehendakku kerana mungkin Abi menganggap yang anaknya ini masih kecil, tentu tak tau apa itu perasaan sedih, kecewa atau kecil hati.

Aaaaah....Aku tak nak bersangka buruk pada Abi walaupun sebenarnya aku sangat kecewa dengan sikap Abi tapi aku tidak ingin menyimpan kekecewaan itu di dalam hatiku. Bahkan hatiku selalu terbuka untuk memaafkan Abi.

Tiba tiba hati Mansur menjadi hiba dan sayu lalu dia menangis bila membaca tulisan Mira yang terakhir itu.

Mansur mendekati Mira, anaknya di tempat tidurnya. Dia merenung wajah Mira sambil mengusap usap rambutnya.

Dengan linangan air mata Mansur berbisik ke telinga Mira, “Mira anakku sayang, maafkan Abi nak, Mira memang mempunyai hati emas. Abi memang tidak pernah minta maaf pada Mira atas janji-janji yang tidak pernah Abi penuhi padamu, nak.

Dan Abi selalu menganggap yang Mira sudah melupakannya, sebab setiap pagi Abi tengok wajah Mira begitu ceria dan selalu tersenyum.”

“Tapi Abi silap, itu cuma lakonanmu semata dan yang pasti Mira masih tetap menyimpan dan masih mengingatinya dalam tulisan tulisanmu ini.”

“Entah sudah berapa banyak kekecewaan yang ada didalam hatimu nak, seandainya Mira masih lagi tidak dapat memaafkan Abi.”

“Abi akan menunggumu sampai esok pagi untuk meminta maaf padamu, Mira.......”

Zaujah = isteri
Abi = ayah
Ummi = ibu


Dipetik dari blogs http://anjangdahar.blogspot.com/

Monday, March 12, 2007

.:: Hakikat da'wah dan tarbiyah ::.

Dakwah adalah semulia-mulia amalan. Dakwah mensucikan diri kita sebagai seorang muslim / muslimah, mukmin / mukminah. Jadikanlah diri kita sebagai seorang da’ie tidak kiralah di bumi mana kita berpijak sekalipun. Berdakwahlah dengan hati yang dipenuhi rasa ‘athifah ( lemah lembut ) terhadap manusia. Dunia ini memerlukan seorang ‘athifah ( rujuk surah Al-Imran : 159 ) dan mungkinkah seorang da’ie mengajak orang lain tanpa menyentuh isi ‘athifah ini? Da’ie yang ikhlas yang mana merasai ‘athifah tidak akan mengalami kesulitan untuk memasukkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain.

Inilah sebuah jalan yang sukar, pedih dan memenatkan. Namun ianya jalan yang selamat, indah dan luas yang pasti menggoda orang-orang yang beriman untuk menempuhnya. Di sepanjang jalan ini terdapat pelbagai ranjau dan duri dan kita harus peka dengannya. Barangsiapa yang menempuhi medan ini dengan syarat-syarat, pasti akan sampai ke destinasinya dengan aman, tenang dan menyenangkan.

Manhaj ini menetapkan kita berada bersama di mana-mana sahaja. Ikatan yang terjalin antara kita perlulah utuh. Kita sama-sama mempunyai perasaan yang halus dan jujur. Jiwa persaudaraan seorang da’ie perlulah benar-benar utuh dan hangat. Inilah bunga-bunga persaudaraan yang indah dan cukup umggul. Bunga ini tersemat dan tertanam kukuh dalam sanubari kita.

Maka, bangkitlah wahai saudaraku dalam memeperjuangkannya. Sesungguhnya Allah S.W.T. membeli orang-orang yang beriman dengan harta, masa, dan nyawa dalam memperjuangkan deenNya. Bunga itu benar-benar tertanam untukmu. Dedaunnya yang menghijau sentiasa memberi jaln kepadamu dan disirami dengan keimanan dan ketaqwaan. Bunga itu menenangkan dan memperingatkanmu bagiman menempuh jalan itu dengan baik, tersusun dan penuh kesabaran. Begitulah indahnya UKHWAH FILLAH…Wassalam…